Magetan

Wiji Lestari Henti Belajar karena Tidak Punya Smartphone

”Kalau Bisa Adik Jangan Ikut Putus Sekolah”

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Lima bulan sudah Wiji Lestari tidak menjamah buku pelajarannya sendiri. Gadis 19 tahun itu malah sering membuka buku pelajaran kelas I SD milik Aini Indah Safitri, adiknya.

Aktivitas itu dilakukannya sejak mundur sebagai siswi kelas XII salah satu SMK swasta di Kecamatan Lembeyan, April lalu. Penyebabnya, tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi Covid-19. ‘’Karena saya tidak punya smartphone,’’ katanya Kamis (17/9).

Sebetulnya, Wiji punya smartphone yang dibeli bekas dari kenalannya seharga Rp 350 ribu. Namun, alat komunikasi satu-satunya itu rusak setahun lalu. Coba di-charge, tapi tidak menyala.

Smartphone dibeli Wiji dengan uang hasil menyisihkan honor bernyanyi di berbagai acara. Upahnya Rp 150 ribu sekali tanggapan. ‘’Dibagi buat beli makan dan kebutuhan lainnya. Karena penghasilan orang tua dari mengamen tidak banyak,’’ ujar gadis berambut ikal tersebut.

Keputusan Wiji tidak bersekolah sebulan setelah pandemi Covid-19 datang, telah disetujui orang tua dan kepala sekolah. Awalnya, dia sempat mengikuti PJJ dengan meminjam smartphone milik temannya. Langkah itu atas saran pihak sekolah.

Namun, lambat laun tidak enak hati. Terlalu sering merepotkan teman dan orang tua temannya itu. Sebab, ikut menghabiskan kuota internet. ‘’Sempat minta sekolah untuk membawakan tugas ke rumah, tapi sekolah tidak bisa,’’ ungkapnya.

Jangankan beli smartphone baru, anak pasangan suami istri Pangat dan Tutik itu tidak punya uang untuk memperbaiki smartphone yang rusak. Pernah sambat ke orang tua, dia diminta menunggu.

Belakangan, Wiji sadar atas kondisi ekonomi keluarganya yang sangat tidak memungkinkan. ‘’Harganya mahal. Belum nanti kuotanya bagaimana? Sedangkan orang tua kesehariannya cuma ngamen keliling Ponorogo, Magetan, sampai Jawa Tengah,’’ ungkapnya.

Layaknya anak pada umumnya, Wiji ingin sukses dan membahagiakan orang tua. Namun, situasi membuatnya berbesar hati dan rela mengubur impian itu. Bagi dia, kebutuhan keluarganya bisa tercukupi menjadi hal paling penting. ‘’Kalau bisa adik jangan sampai ikut putus sekolah,’’ ucapnya. (odi/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close