Pacitan

Waspadai Virus DBD Berevolusi

PACITAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan makin waswas menyusul kasus demam berdarah dengue (DBD) yang terus meningkat. Pasalnya, virus penyebab DBD yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu dikhawatirkan berevolusi. Mengingat Pacitan jadi jujukan wisatawan dan perantau dari luar daerah. ‘’Bahayanya kalau ada warga yang tergigit di luar daerah lalu pulang dan kena (gigitan, Red) lagi di sini,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (PPP) Dinkes Pacitan Wawan Kasiyanto kemarin (30/1).

Wawan mengungkapkan, berdasarkan penelitian terdapat empat stereotip virus DB. Di Pacitan terindikasi tersebar jenis nomor empat. Tipe tersebut dinilai paling aman ketimbang tiga jenis lainnya. Meski tergolong level rendah namun bukan berarti tak berbahaya. Pasalnya, tahun sebelumnya didapati warga meninggal dunia lantaran tergigit nyamuk tersebut. Tingginya mobilitas penduduk beberapa tahun terakhir juga dikhawatirkan bakal membawa jenis virus lainya ke Kota 1001 Gua. ‘’Kalau paling bahaya itu jenis dua dan tiga,’’ ujarnya.

Bila seorang warga terkena beberapa kali gigitan dengan jenis stereotip virus yang berbeda bakal rentan terjangkit DB parah. Bahkan, jika antibodi rendah tak menutup kemungkinan bakal merenggut nyawa. Terlebih, kombinasi gigitan jenis nomor dua dan tiga. Namun, jenis virus tersebut baru diketahui setelah dilakukan penelitian di laboratorium.

Karena itu, pihaknya mewanti-wanti warga khususnya yang memiliki balita untuk mengantisipasi gigitan nyamuk. Masalahnya, di usia dini kondisi imunitas relatif rendah dan mudah terserang penyakit. ‘’Meskipun berhasil disembuhkan tapi proses pemulihan DBD tergolong lama, jadi mengganggu kesehatan. Terlebih ibu hamil,’’ papar Wawan.

Untuk kondisi ibu hamil (bumil), lanjut Wawan, amat dianjurkan berhati-hati dengan penyakit DB. Pasalnya, kondisi ibu yang lemah pasca tergigit dikhawatirkan bakal mengganggu kesehatan janin. Sehingga kurangnya nutrisi bakal membuat kondisi bayi stunting. Lantaran sejak dalam kandungan nutrisi amat diperlukan untuk tumbuh kembang anak. ‘’Kalau ibunya lemas dan kurang sehat jelas akan mengganggu janinnya,’’ terangnya.

Menggunakan kelambu saat tidur bisa jadi cara sederhana menghindari gigitan nyamuk. Pun lingkungan menunjang tingginya populasi nyamuk di sekitar rumah. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di beberapa tempat seperti genangan air dan barang bekas wajib dilakukan untuk menghindari nyamuk berkembang biak. ‘’Beberapa tempat seperti daun kering yang tergenang air juga bisa jadi sarang nyamuk,’’ pungkasnya. (mg6/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close