Warga Tagih Pembongkaran dan Penggantian Masjid Wasilatul Muttaqien

240

MAGETAN – Berfungsinya ruas tol Ngawi–Wilangan melintasi Magetan menyisakan persoalan krusial di RT 20, RW 05, Dusun Karasan, Desa/Kecamatan Kartoharjo. Hingga kini belum ada kejelasan status pembongkaran dan penggantian Masjid Wasilatul Muttaqien. Padahal, jauh-jauh hari antara warga setempat dengan PT Ngawi Kertosono Jaya (NKJ) telah mengikat kesepakatan. ‘’Tapi sampai sekarang belum ada kepastian,’’ kata Mukhajjat, 68, warga setempat, Senin (11/6).

Kekhawatiran warga Dusun Karasan cukup beralasan. Sebab, jalan tol sudah bisa dilewati kendaraan. Sementara, sesumbar janji pembongkaran telah diumbar sedari empat tahun lalu. Bersamaan proses pembebasan lahan di lokasi lainnya. Rentang waktu yang terlampau panjang itu membuat warga khawatir NKJ melupakan kesepakatan. Warga juga mengkhawatirkan kondisi bangunan masjid yang didirikan 1983 silam tersebut. Selain lokasinya yang berhimpitan dengan tol. Tembok untuk ruang imam mengalami keretakan cukup parah. ‘’Padahal masjid ini aktif digunakan salat berjamaah,’’ kata pria yang juga wakif masjid itu.

Keretakan terdapat pada tiga sisi tembok ruangan yang sekaligus sebagai tempat mimbar itu. Diameternya berkisar satu hingga lima sentimeter. Kondisi terparah di bagian selatan tepat bersebelahan jalan tol. Garis retaknya membentang lebih dari satu meter hingga mengenai jendela kecil tembok tersebut. Kerusakan serupa juga terlihat pada tembok ruang salat di sisi selatan paling timur. ‘’Akibat terkena getaran dari alat-alat berat yang digunakan pembangunan sejak dimulainya proyek 2015 lalu,’’ ungkap Mukhajjat menjelaskan penyebab keretakan.

Menurut dia, masjid yang mampu menampung sekitar 80 jamaah itu tidak representatif untuk salat karena lokasinya berimpitan jalan tol. Para jamaah kerap mengeluh tidak bisa berkonsentrasi beribadah karena getaran dan bising suara kendaraan. Beberapa juga khawatir masjid sewaktu-waktu ambruk hingga beralih salat ke musala. Ancaman tidak kalah berbahaya datang dari faktor nonteknis. Misalnya, pengemudi kendaraan yang melewati tol di Km 594 itu dalam kondisi mengantuk atau bannya meletus. Kemudian kendaraan menghantam masjid yang bersamaan warga salat berjamaah. ‘’Sudah dua kali kejadian ban meletus. Untung mobilnya tidak sampai munting ke arah masjid,’’ ungkapnya.

Seperti apa perjanjian yang dibuat dengan NKJ? Mukhajjat menyebut warga rela masjid yang berdiri di lahan wakafnya dibongkar untuk keperluan membuat parit tol. Syaratnya, NKJ harus mengurus peralihan lahan wakaf masjid seluas sekitar 100 meter persegi itu menjadi hak milik pribadi. Serta wajib mendirikan masjid di lokasi lain sebelum melakukan pembongkaran. Kala itu, NKJ yang menyepakati kesepakatan lantas berkomunikasi dengan kantor Kemenag Magetan hingga pemerintah pusat. ‘’Prosesnya lama sekali dan baru tuntas Desember tahun lalu,’’ ucapnya.

Nah, kala NKJ menyelesaikan proses administrasi wakaf, Mukhajjat sudah menyediakan lahan untuk masjid baru. Luasnya sekitar 13×26 meter berjarak sekitar 50 meter dari lokasi lama. PT Waskita Karya Ngawi Kertosono (WK-NK) I selaku rekanan pembangunan proyek tol sempat mengutarakan niatan menalangi pembangunan masjid. Namun, sebelum terealisasi, pimpinan yang mencetuskan ide itu dipindahtugaskan. Namun, tidak ada kelanjutan wacana itu di bawah pimpinan baru hingga tuntasnya pembangunan tol. ‘’Sebetulnya sempat ada kabar kalau masjid mau dibangun April lalu. Tapi, nyatanya tidak ada pembuktian,’’ keluh pensiunan guru agama Islam tersebut.

Mukhajjat mengaku tidak enak hati dengan warga desanya. Sebab, mereka juga berkontribusi dalam proses pendirian awal masjid yang memiliki tiga pilar di ruangan salat dan terasnya berupa tanah itu. Pun sebelum ada rencana proyek tol, warga perlahan memulai renovasi masjid menggunakan dana infak salat Jumat. Dana itu di antaranya dipakai mengganti genting dan memasang lantai keramik. ‘’Niatan berhenti karena tahu terdampak tol,’’ ujarnya.

Saat wartawan koran ini mencoba meminta konfirmasi kepada pihak WK-NK 1, kepala atau humasnya sedang tidak berada di kantor sekretariat yang berjarak 100 meter dari Masjid Wasilatul Muttaqien. Petugas jaga kantor itu menyarankan untuk datang kembali usai Lebaran. ‘’Tidak ada di kantor karena libur,’’ katanya singkat. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here