Madiun

Warga Pertanyakan Makam Tertutup Jalan

Lurah Pandean Pertemukan Pengelola dan Ahli Waris

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Lina Yuliana, warga Jalan Tuntang, RT 41, RW 14, Pandean, Taman, mendapati makam keluarganya di kompleks Pemakaman Bulusari, Blok A, menjadi jalan makam. Itu diketahuinya saat berziarah ke makam ibunya, Jumat pekan lalu (12/6). ‘’Saya kaget nisan makam keluarga sudah tidak ada di tempat semula. Tepat di atas makam malah dibangun jalan,’’ katanya Selasa (16/6).

Lina menyebut, ada sekitar 20 makam keluarganya yang di atasnya kini dibangun jalan. Saat berziarah Februari sebelum pandemi, makam keluarganya masih utuh. Pun, setelah itu dirinya tak pernah mendapat informasi maupun permohonan terkait pembangunan jalan di atas makam keluarganya dari pihak kelurahan setempat. ‘’Saya biasa ke makam sebulan sekali untuk bersih-bersih dan ziarah. Sejak pandemi tidak ke sini lagi, dan saat ditengok makam sudah jadi jalan,’’ ungkapnya.

Tak hanya makam keluarga Lina, banyak makam keluarga lain yang di atasnya juga dibangun jalan. Karena jalan itu sendiri memanjang membelah kompleks Pemakaman Bulusari dari gerbang hingga belakang. Lebarnya sekitar 2 meter. Sebelumnya memang ada jalan setapak yang lebarnya tidak sampai setengah meter. ‘’Dulu di sini pemakamannya padat. Hanya ada jalan sempit, setengahan meter,” jelasnya.

Senin pagi (15/6), Lina coba mendatangi Kelurahan Pendean untuk meminta kejelasan. Namun, kepala kelurahannya tidak berada di tempat. ‘’Saya hanya meminta makam yang di atasnya dibangun jalan itu dirapikan,’’ ujarnya.

Kepala Kelurahan Pandean Eko Santoso saat konfirmasi mengatakan, saat ahli waris hendak bertemu, dirinya sedang memenuhi undangan rapat mulai pukul 07.00-10.00. Setelah itu menunggu agenda wali kota membagikan sembako di Kampung Tangguh yang berada di wilayahnya hingga sore. ‘’Tapi ditunda. Pak Wali baru menyerahkan bantuan sembako di RT 52, RW 17, Perum Taman Salak, kemarin sore (16/6),’’ katanya.

Selanjutnya, Eko bakal mempertemukan pihak ahli waris dengan Unit Pengelola Makam Bulusari (UPMB) yang bertanggung jawab dalam pembangunan jalan di pemakaman tersebut. ‘’Pengelolaan makam sudah kami serahkan sepenuhnya kepada UPMB. Harus ada musyawarah untuk menyelesaikan masalah ini,’’ tegasnya.

Eko menambahkan, seiring pengumuman dari wali kota Madiun terkait lomba kebersihan makam Desember 2019 lalu, pihak kelurahan dan UPMB berencana melakukan pembenahan. ‘’Salah satunya merapikan jalan yang semrawut. Karena ada makam di tengah jalan,’’ ungkapnya.

Ditegaskan, pembangunan jalan sejatinya tidak sekadar demi mengejar kriteria lomba. Namun, untuk memberikan akses jalan masuk bagi setiap peziarah. Sekaligus memudahkan keluar-masuk keranda saat prosesi pemakaman. ‘’Jalan makam itu juga menjadi akses ke pemakaman blok B yang merupakan tanah perluasan hasil hibah dari PT Crown Mansion di Jalan Serayu Barat,’’ terangnya.

Ketua UPMB Priyanto menegaskan, sejatinya pembangunan jalan makam Bulusari telah melalui mekanisme panjang. Seperti sosialisasi dengan cara menyampaikan pada ketua RW/RT untuk diteruskan kepada masyarakatnya masing-masing. UPMB juga meminta penjaga dan petugas kebersihan makam untuk menyampaikan kepada setiap ahli waris yang sedang ziarah. ‘’Mungkin informasinya tidak sampai pada semua ahli waris,’’ katanya.

Sejatinya, Priyanto juga menunggu konfirmasi dari pihak ahli waris. Namun, sejak awal proses pembuatan hingga rampung, tidak ada yang datang. Pun, karena sedang mengikuti lomba kebersihan makam se-Kota Madiun, pembangunan terus dilakukan sejak Maret hingga April. ‘’Setelah jadi, banyak masyarakat yang mengapresiasi karena pemakaman jadi bagus,’’ klaimnya.

Priyanto sendiri menyadari ada beberapa masyarakat yang komplain. Baginya, itu manusiawi. Dia pun mencontohkan, bila itu menimpa makam keluarganya, rasanya tidak terima. Di sisi lain, dia tidak bisa memungkiri banyak warga yang membutuhkan akses jalan baik saat melangsungkan pemakaman maupun berziarah. ‘’Setelah mendapat laporan ada beberapa ahli waris yang keberatan, akan kami selesaikan secara baik-baik. Akan kami ajak para ahli waris untuk musyawarah bersama,’’ tuturnya.

Priyanto mengaku cukup kesusahan karena ahli waris dari makam yang terdampak tidak sedikit. Dia pun merasa ragu untuk mengambil keputusan. Sebab, beberapa ahli waris makam juga beda pendapat. ‘’Sedangan pembangunan jalan ini sudah menjadi program untuk memudahkan akses masuk ke makam,’’ imbuhnya.

Dia juga menegaskan, sesuai aturan UPMB, sejatinya saat ada pemakaman harusnya ada surat pengantar dari ketua RT setempat. Setelah itu, pengelola akan menentukan letak makam. ‘’Seharusnya prosesnya seperti itu. Tapi, kebanyakan tidak, sehingga penempatan makam tidak teratur,’’ pungkasnya. (mg3/c1/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close