Warga Nglames Tersiksa Limbah Pabrik Gula

183

MADIUN – Warga Desa Bangunsari, Kecamatan/Kabupaten Madiun, dipaksa menghirup bau busuk. Aroma tidak sedap itu diduga berasal dari limbah cair PG Redjo Agung Baru (RAB) yang dibuang ke sungai. Alirannya hingga ke permukiman utara  pabrik tersebut. Polusi udara menahun itu berlangsung setiap kali pabrik berproduksi. ‘’Warga di sini sudah terbiasa,’’ kata Indra Mukti, salah seorang warga desa setempat, kemarin (27/7).

Bau busuk itu tercium di Jalan Raya Madiun-Surabaya. Tepatnya depan SMAN 1 Nglames. Air sungai kecil di sebelah barat sekolah itu berwarna hitam pekat. ‘’Bau busuknya mengganggu 24 jam nonstop,’’ ujar Sinyo, sapaan Indra Mukti.

Menurut dia, aroma tidak sedap mulai menyebar sejak sebulan lalu. Itu berbarengan dengan air kanal berwarna hitam. Alirannya menuju ke utara sampai ke Desa Bagi. Aliran kanal yang tercemar itu juga mengarah ke Desa Banjarsari di sebelah timur desanya. ‘’Kalau di sana tidak banyak warga yang terdampak karena saluran air melintasi area persawahan,’’ ungkapnya.

Keluhan juga acap datang dari tamu yang berkunjung ke desa tersebut. Hal itu membuatnya tidak enak hati kepada tuan rumah. ‘’Ya, apalagi saat dijamu makanan dan minuman. Kalau kami sih sudah biasa, tapi mereka (tamu, Red) kan tidak,’’ keluhnya.

Berdasar pengalaman, musim giling (proses produksi) PG RAB berlangsung tiga bulan. Namun, lanjut Sinyo, bila menilik kondisi cuaca saat ini, aroma busuk masih tetap ada kendati pabrik berhenti produksi. Bahkan cenderung parah bila air limbah itu mampet di kubangan dasar sungai. ‘’Soalnya tidak turun hujan, sehingga tidak terbawa air,’’ bebernya.

Menurut Sinyo, masalah ini sempat dilampiaskan warga lewat aksi unjuk rasa beberapa tahun lalu. Namun, ada warga yang terbantu karena air limbah bisa dimanfaatkan untuk irigasi sawah. Kendati demikian, warga terdampak polusi tetap mengharapkan tidak ada bau lagi. ‘’Ya, entah bagaimana caranya jangan memberikan dampak buruk,’’ tekannya.

Darminto, warga lainnya, membenarkan air limbah dimanfaatkan untuk mengairi sawah. Bila tidak ada, ongkos tanam padi terasa berat. Sebab, harus mengeluarkan Rp 150 ribu per bulan untuk membeli solar bahan bakar pompa air. Menurutnya, air tidak berbahaya bagi tanaman dan hasil panen. ‘’Nyatanya hingga kini tidak pernah terjadi apa-apa,’’ klaimnya.

Yayuk Elina, pemilik warung penyetan, menyebut bau limbah secara tidak langsung mengganggu usahanya. Pembeli yang dari luar lingkungan setempat selalu bertanya asal bau busuk itu. Sepi tidaknya pembeli, kata dia, memang risiko berdagang. Bukan karena dampak bau. ‘’Tapi ya tetap ingin bau ini bisa dihilangkan,’’ harapnya.

Sementara, pihak PG Redjo Agung belum bisa dimintai konfirmasi terkait dugaan pencemaran bau limbah. Sekuriti pabrik itu menyebut humas dan jajaran manajemen sudah pulang sekitar pukul 11.00 lantaran hari  Jumat. Dia menyarankan agar datang kembali hari ini. ‘’Jam kerja kantor sampai pukul 13.00,’’ katanya. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here