Warga Desa Bagi Lima Tahun Menunggu Janji

363

MADIUN – Dijanjikan sejak beberapa tahun lalu, perbaikan selokan di kanan-kiri sepanjang jalan nasional ruas Desa Bagi, Kecamatan/Kabupaten Madiun, belum direalisasi hingga kini. Akibatnya, saat musim hujan akses penghubung Kabupaten Madiun-Magetan itu tergenang lantaran luapan air selokan yang sudah tidak layak. Meski hanya hitungan jam namun sangat meresahkan.

Agus Setiawan, salah seorang warga setempat, jengah dengan jawaban pemerintah yang cenderung menghindar.  Terkadang hanya menjawab sudah ada  pengukuran dan pengecekan dari dinas terkait. Sebagai warga terdampak, dia ingin tindakan nyata. ‘’Saat ini banyak  yang tertutup bangunan warga,’’ ujarnya.

Dia juga menyayangkan dengan kondisi jalan yang masih baru menyusul pembangunan tol. Dia khawatir jalan di depan rumahnya itu bakal cepat rusak karena sering tergenang air saat musim hujan. Pun jalan ini adalah wajah Kabupaten Madiun. ‘’Eman kalau tak kunjung dibangun saluran air yang layak. Kami ingin kejelasan, kapan direalisasikan,’’ ucapnya.

Kepala Desa Bagi Agus Pramono menambahkan, pihaknya sudah mengajukan permohonan pembangunan saluran air sepanjang 400 meter itu sejak masih berstatus jalan kabupaten pada 2015 silam. Namun, dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR) belum memberi jawaban jelas. ‘’Janjinya tahun ini bakal dibangun. Tapi tahun sebelumnya juga janjinya seperti itu,’’ ungkapnya.

Dia menyebut, awalnya jalan itu berstatus jalan kabupaten. Kemudian jadi jalur provinsi bersamaan pembangunan jalan tol. Hingga kini, setelah tol diresmikan dengan Dumpil interchange di Desa Bagi, status naik lagi jadi jalan nasional. Dulunya bernama Jalan Bagi-Tiron. Kini jadi Jalan Sawahan-Kartoharjo. Pihaknya tidak ingin kenaikan status itu dijadikan alasan untuk menunda perbaikan selokan. ‘’Kami sudah menunggu hampir empat tahun,’’ keluhnya.

Pantauan di lokasi, selokan itu tak terlihat jelas dari jalan. Saluran yang ada saat ini, dulu dibangun secara swadaya masyarakat setempat. Kondisinya pun sudah tak layak. Bahkan, di beberapa titik mampet. Akibatnya, air tak bisa mengalir lancar dan meluap hingga menggenangi jalan saat hujan.

Agus berharap tahun ini pembangunan selokan benar-benar direalisasikan. Pasalnya, tercatat sudah sekitar 10 kali pengukuran dan pengecekan oleh dinas terkait. Pertama kali 2016 lalu. Namun, tak kunjung dibangun. Setelah musrenbang kecamatan 2017 kembali diukur. Itu terus berulang  hingga 2018 kemarin. ‘’Kami ingin realisasinya segera,’’ pintanya. (mg4/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here