Wali Kota Madiun Tersandera Problem Banjir Kiriman

210

MADIUN – Penanganan masalah banjir menjadi fokus perhatian Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto (SR) seiring meningkatnya intensitas hujan. Dia meminta dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR) melakukan kajian dan pemetaan terkait upaya normalisasi sungai. Supaya aliran air Kali Piring dan Kali Sono yang mengantre masuk ke Kali Jeroan tidak sampai meluber ke rumah penduduk. ’’Banjir yang terjadi pada Jumat lalu (18/1) merupakan kiriman (dari Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Red),’’ kata SR kemarin (21/1).

Hanya, SR tidak ingin mempersoalkan banjir kiriman itu dari daerah mana. Sebaliknya, dia meminta DPUTR untuk mencari solusi konkret mengatasi banjir yang menjadi masalah klasik tahunan tersebut. Terutama pada aliran air dari Kali Maling dan Kali Sono yang mengantre masuk ke Kali Jeroan di Balerejo, Kabupaten Madiun. ’’Sementara, (kalau) di sana tidak bisa menampung (volume) air yang masuk, itu harus dicarikan solusinya,’’ ujar mantan wakil wali kota Madiun tersebut.

Ada sejumlah saran yang diusulkan oleh SR. Seperti melakukan penyodetan aliran dari dua sungai tersebut ke Kali Piring. Sebelum kemudian bermuara ke Sungai Bengawan Madiun. ‘’Kalau itu mungkin dilakukan, kenapa tidak?’’ ucap SR.

Diakuinya, kondisi topografi Kota Madiun berbentuk cekungan. Sehingga, ketika wilayah pegunungan utamanya di Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, diguyur hujan lebat, sebagian kelurahan di Kota Madiun bisa dipastikan tergenang. ’’Kalau air dari Kali Sono dan Kali Malang memungkinkan dibuang ke Kali Piring dengan sistem buka tutup atau pemompaan, itu bisa dijadikan pertimbangan,’’ terangnya.

Di sisi lain, SR meminta masyarakat proaktif menjaga kondisi lingkungan masing-masing. Sebab, dari tahun ke tahun volume air yang menggenangi wilayah Kota Madiun menunjukkan peningkatan. ’’Banjir membuat orang tidak berdaya. Karena aktivitas masyarakat tersendat, perekonomian tidak berjalan serta kesehatan ikut terganggu. Jadi, mesti ada solusi untuk mengatasinya,’’ tekannya.

Tahun ini pemkot memang sudah merencanakan sejumlah normalisasi sungai dan saluran. Seperti saluran di Soekarno Hatta dan Kali Sono. Upaya pengendalian banjir juga dilakukan dengan menyiagakan operasional pompa air.

Saat ini jumlah pompa air di Kota Madiun ada delapan unit. Satu unit merupakan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, sedangkan tujuh lainnya merupakan milik dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (DPUPR).

Beberapa mesin pompa air milik pemkot itu disiagakan di Jalan Kaswari; Gang Pancasila, Nambangan Lor; Jalan Pandan, dan Kelurahan Pangongangan. Tiap pompa air memiliki kemampuan menyedot berbeda-beda.

Misalnya, mesin pompa di Jalan Kaswari mampu menyedot air sampai 800 liter per detik. Sedangkan, pompa air di Gang Pancasila bisa menyedot air hingga 1.000 liter per detik. Kemudian, pompa air di Jalan Pandan mempunyai kemampuan daya sedot sampai 1.500 liter per detik.

Di luar itu, BPBD juga menyiagakan empat unit pompa air penyedot berkapasitas kecil yang digunakan untuk mengatasi banjir di rumah-rumah penduduk. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here