Ponorogo

Wajib Berwudhu Demi Keberkahan Ilmu

PONOROGO – Lulus sekolah, Sigit Budi Eko Utomo tak melanjutkan kuliah. Daripada mengenyam pendidikan tinggi, santri asal Purwantoro, Wonogiri, Jateng itu lebih tertarik mesantren di Waskita Jawi.

Di pesantren Gus Ziyyulhaq itu, Sigit mukim bersama dua santri sepantarannya. Setahunan ini tak hanya belajar agama. Juga, mendalami keterampilan membuat blangkon yang telah digeluti pengasuhnya lima tahun terakhir. ‘’Membuat blangkon itu melatih kita bagaimana mengelola waktu,’’ tutur Sigit.

Ada aturan yang tak boleh ditentang. Di setiap produksi, santri wajib berwudhu terlebih dahulu. Jika batal di tengah pembuatan, harus kembali mensucikan diri. ‘’Pernah blangkon itu tak bisa diselesaikan,’’ kenangnya.

Keberkahan ilmu itulah yang menjadi nilai plus. Dekat hubungan pengasuh-santri seperti keluarga sendiri memercikkan energi positif. Setiap hari, tiap santri sanggup menyelesaikan rata-rata satu blangkon. ‘’Banyak pelajaran yang kami dapatkan selama di sini,’’ ungkapnya.

Blangkon yang diproduksi santri Waskita Jawi mengedepankan detail. Lantaran setiap prosesnya diampu dengan tangan sendiri (handmade). Buah karya yang meminimalisasi penggunaan alat modern membuat kualitasnya berbeda dari produk pasaran. ‘’Kami tidak melapisi dengan kertas atau bahan lain yang lebih keras,’’ tuturnya.

Dari blangkon, Sigit tak sekadar mendapatkan keterampilan. Setiap proses produksi yang menuntut ketelatenan itu secara tidak langsung memupuk karakter santri. Tak sekadar menjadi ilmu baru yang ke depan sangat potensial untuk diterapkan. ‘’Mau jadi apa nanti, kita sendiri yang menentukannya dari sekarang,’’ tuturnya.

Produksinya yang tembus pangsa mancanegara membuktikan kualitasnya bukan isapan jempol belaka. Pesanan terjauh dari Jepang. Pendapatannya masuk tambahan dana operasional pesantren. Termasuk akomodasi dan konsumsi. (naz/fin)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close