Waito Wongateleng, Anak Lulusan SD yang Kini Nahkodai Kejari Ngawi

104

NGAWI – Menjadi seorang jaksa perempuan bukan menjadi masalah bagi seorang Waito Wongateleng. Buktinya, perempuan asli Baderan, Geneng, Ngawi itu justru sukses meniti karir di lingkup korp Adyaksa.

Hawa dingin dari air conditioner (AC) langsung terasa begitu pintu utama ruang kerja kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngawi dibuka. Memasuki ruangan itu terlihat dua set kursi tamu yang ditaruh terpisah. Satu di samping pintu masuk, satunya lagi berada persis di samping meja kerja kepala kejari (kajari).

Di dalam ruangan yang lumayan lapang itu terdapat sebuah meja utama. Di atasnya ada beberapa tumpuk berkas yang tertata rapi. Pada bagian ujung depan meja tersebut terpampang tulisan Waito Wongateleng.

Waito merupakan warga asli Ngawi. Dia lahir dan besar di Desa Baderan, Kecamatan Geneng. Perempuan yang pada 18 April mendatang tepat berusia 50 tahun itu mengawali karirnya di Kejari Surakarta pada 1996 silam. ‘’Sebelum jadi PNS saya sempat kerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta selama dua tahun,’’ ujar jebolan Universitas Brawijaya Malang ini.

Pada 1995 Waito memutuskan resign dari perusahaannya. Lalu, mencoba melamar CPNS. Kebetulan kala itu ada lowongan di bidang kehakiman dan kejaksaan. Akhirnya pilihannya jatuh pada kejaksaan. ‘’Kan hanya punya satu kartu (kartu kuning, Red), jadi harus memilih antara kehakiman dan kejaksaan,’’ sebutnya.

Setelah menjalani serangkaian tes dan pendidikan, akhirnya Waito berhasil menjadi bagian dari korps adhyaksa dengan status calon pegawai (capeg) di Kejari Surakarta, Jawa Tengah. ‘’Baru setahun kemudian diangkat menjadi PNS (pegawai negeri sipil, Red),’’ kenangnya.

Selama menjalani karir di kejaksaan, Waito pernah ditugaskan menjadi jaksa fungsional di beberapa daerah. Selepas menjabat kasi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejari Karanganyar, karirnya semakin melejit hingga akhirnya menjadi koordinator di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur pada 2013 lalu.

Dua tahun berselang, Waito ditunjuk sebagai kejari Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan sebelum akhir dua tahun lalu ‘’pulang kampung’’ ke Ngawi untuk menjabat kajari setempat. ‘’Sebenarnya dulu sempat bercita-cita jadi

diplomat supaya bisa keliling dunia. Setelah akhirnya masuk kejaksaan ya harus komitmen,’’ ungkapnya.

Di balik karirnya yang moncer, usai menamatkan pendidikannya di SMA Waito gagal lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN). Namun, kegagalan itu justru dijadikan cambuk untuk terus berjuang. ‘’Kebetulan orang tua saya dulu meski hanya lulusan SD tapi sangat mengutamakan pendidikan anak-anaknya. Itu juga yang memotivasi saya,’’ ujar Waito.

Meski kini menjabat sebagai orang nomor satu di Kejari Ngawi, Waito tetaplah seorang perempuan. Istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Ketika di kantor menjadi pimpinan, setelah pulang ke rumah kembali berperan sebagai ibu rumah tangga. ‘’ Di rumah saya juga masak, ngepel, dan sebagainya,’’ ujarnya. ***(latiful habibi/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here