Madiun

Waduk Dawuhan Kering Kerontang, Konstruksi Bendungan Terancam

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Kondisi Waduk Dawuhan, Wonoasri, Kabupaten Madiun, kian memprihatinkan. Infrastruktur irigasi pertanian tersebut benar-benar kering kerontang hingga tanah bagian dasar waduk tampak retak-retak. ‘’Sebetulnya sudah sisakan di atas batas minimal, tapi ternyata air tetap habis,’’ kata Agung Wirasat, petugas operasional dan pemeliharaan Waduk Dawuhan, Jumat (8/11).

Agung mengungkapkan, waduk berkapasitas 1,9 juta kubik air itu tidak lagi menyuplai lahan pertanian per September lalu. Pihaknya menutup pintunya dengan menyisakan air setinggi 2,5 meter. Langkah sesuai standard operating procedure (SOP) itu dilakukan demi menjaga konstruksi bangunan tetap aman.

Namun, lanjut dia, air berangsur-angsur habis karena petani setempat mengambilnya untuk keperluan irigasi menggunakan pompa. ‘’Sedangkan hujan belum juga turun,’’ ujar Agung.

Dia tidak memungkiri habisnya ketersediaan air waduk mengancam konstruksi bendungan yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo itu. Upaya saat ini melakukan penanganan lewat dua kegiatan secara intens. Yakni, pemeliharaan dan pemantauan. ‘’Tujuannya mengetahui gejala atau tanda-tanda kerusakan sejak dini,’’ tuturnya.

Agung menyebut, pemantauan terbagi menjadi dua, yaitu visual dan instrumentasi. Visual dilakukan dengan petugas berkeliling ke bagian-bagian bendungan, mencatat kondisi konstruksi. Pelaporan ke pimpinan dilakukan seandainya ditemukan gejala kerusakan seperti keretakan, penurunan, atau ada tonjolan pada tubuh bendungan.

Sedangkan instrumentasi mengecek ada tidaknya rembesan pada V-notch dan tekanan pori pada piezometer. ‘’Kalau pemeliharaan seperti pembersihan rumput dan semak di tubuh bendungan serta pelumasan pintu waduk,’’ imbuh Agung.

Dia mengklaim konstruksi bendungan masih dalam kondisi normal. Sejauh ini belum ditemukan tanda-tanda kerusakan pada waduk berusia hampir 60 tahun tersebut. Konstruksi tergolong masih bagus kendati kondisi habisnya volume air tidak hanya terjadi kali ini. ‘’Sebelum 2015 sering sekali terjadi (air habis tidak tersisa),’’ ungkapnya. (cor/c1/isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close