Waduk Bening Semakin Mengering

131

SARADAN – Dampak kekeringan di Kabupaten Madiun semakin meluas. Setelah Notopuro, Dawuhan, dan Saradan, Waduk Bening bakal segera menutup pintu irigasinya. Langkah tersebut harus dilakukan demi menjaga kelangsungan konstruksi bendungan berusia 26 tahun silam itu. Menyusul debit air waduk yang terus menyusut. ‘’Oktober kami tutup,’’ kata Sulaiman, juru pintu air Waduk Bening, kemarin (28/9).

Sulaiman mengungkapkan, pada Senin lalu (24/9) debit air tersisa 4 juta meter kubik. Sedangkan total kapasitas daya tampung pada Maret–April silam mencapai 24 juta meter kubik. Penyusutan tersebut, kata dia, terjadi bukan hanya karena tiadanya pasokan air selama musim kemarau. Melainkan rutinitas pendistribusian air per harinya.

Penyusutan, lanjut Sulaiman, juga dampak proses sedimentasi tanah, kendati persentasenya tergolong kecil. ‘’Bulan depan kami sisakan volume air 1,2 juta meter kubik atau dengan batasan elevasi 96,4 derajat,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Selama ini, waduk yang lokasinya bersebelahan dengan ruas tol Madiun–Wilangan itu hanya mengandalkan curah hujan. Saat musim hujan panjang, volume air berlimpah. Sebaliknya, waduk yang juga dikenal dengan nama Widas tersebut tidak bisa sekadar mengandalkan empat sungai wilayah hulu, yakni dari Pajaran hingga Gemarang, lantaran alirannya terlalu kecil. ‘’Penambahannya tidak signifikan,’’ katanya.

Dia menyebut pengaliran air masih normal kendati volume menyusut hingga 90 persen. Yakni, 1,75 meter kubik per detik dalam kurun waktu 24 jam. Itu merupakan ketentuan menyesuaikan pola bertanam petani padi. Ketika fase membutuhkan banyak air, maka kubikasi yang dikeluarkan bisa lebih tinggi. Waduk di bawah naungan Perum Jasa Tirta 1 ini memenuhi permintaan untuk irigasi 9.120 hektare yang tersebar di tiga kecamatan wilayah Nganjuk. Yakni, Kecamatan Nganjuk, Gondang, dan Rejoso. ‘’Kami tidak melayani Kabupaten Madiun karena geografis waduk yang lebih rendah tidak memungkinkan penyaluran,’’ ucapnya.

Sulaiman menambahkan, waduk tidak ikut campur persoalan kecukupan irigasi petani selama dilakukan penutupan. Pihaknya sebatas berwenang memasok air sampai Dam Glatik, Desa Bandungan, Saradan. Selebihnya, pihak dam dengan petani mengatur hitung-hitungan jatah pembagian air. ‘’Petani dan pemkab sepertinya sudah mengantisipasi dampak kekeringan, mengingat ini masalah musiman,’’ tuturnya. (cor/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here