Waduh, Mesin Cetak PD Aneka Usaha Ketinggalan Zaman

103

MADIUN – Ibarat hidup segan mati tak mau. Itulah kondisi unit usaha percetakan Perusahaan Daerah (PD) Aneka Usaha. Sudah bukan hal aneh jika unit usaha perusahaan pelat merah itu mendapat catatan wakil rakyat. Bahkan direkturnya menganggap kritik pedas terhadap perusahaannya sebagai hal biasa. ’’Di tengah keterbatasan yang ada, kami prioritaskan di usaha yang paling prospektif,’’ kata Direktur PD Aneka Usaha Sutrisno kepada Jawa Pos Radar Madiun, Rabu (12/9).

PD Aneka Usaha berdiri sejak 2003. Kini menjalankan tiga lini bisnis. Pertama, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jalan Basuki Rahmat dan Mayjend Sungkono. Kedua, bisnis percetakan yang jadi satu dengan kantornya di Jalan Ahmad Yani. Terakhir, bisnis bengkel yang disewakan pada pihak ketiga. Lini usaha bengkel dan percetakan tidak bisa diharapkan. ’’Untuk percetakan dan bengkel, bagaimana supaya tidak jadi beban unit lain saja. Tapi kalau ditutup (percetakan), sayang juga,’’ ujarnya.

Berapa pendapatan mereka? Sutrisno mengaku saat didapuk menjadi direktur per 2017 lalu, dia disodori angka akumulasi rugi yang cukup fantastis. Mencapai Rp 6,9 miliar, mulai berdiri hingga 2016. Saat itu Sutrisno memutuskan memprioritaskan bisnis pada dua SPBU yang dimiliki. Di tahun perdananya, PD Aneka Usaha meraup laba Rp 741 juta. Sebagian besar disumbang dua SPBU. Sementara, percetakan hanya menyumbang Rp 100 juta. Sedangkan pendapatan dari bengkel yang disewa pihak ketiga hanya Rp 15 juta setahun.

Sutrisno terang-terangan mengakui jika dua lini bisnisnya, yakni percetakan dan bengkel, tidak bisa diharapkan. Bahkan, target yang dipatok untuk usaha percetakan cukup sederhana. Yakni, supaya tidak rugi dan menjadi beban bagi lini bisnis yang lain. Jawa Pos Radar Madiun berkunjung ke unit usaha percetakan PD Aneka Usaha kemarin siang. Ruang percetakan tidak begitu sibuk. Mesin percetakan menyala, mencetak beberapa pesanan dari konsumen.

Percetakan PD Aneka Usaha gagal beradaptasi dengan tuntutan zaman. Saat ini, kata Sutrisno, ketika konsumen yang ingin mencetak cukup membawa peranti penyimpanan seperti flashdisk, namun mesin percetakan PD Aneka Usaha masih mencetak menggunakan pelat secara konvensional. ‘’Mesin sudah tua. Sekarang banyak (percetakan) yang sudah modern. Keuntungan di sini baru bisa terasa ketika mencetak dalam jumlah besar,’’ terang Sutrisno.

’’Di samping itu, sekarang industri percetakan semakin sepi, di mana pun semakin paperless (minim penggunaan kertas, Red),’’ imbuh mantan direktur teknik PDAM Tirta Taman Sari itu.

Persoalan yang membelit unit percetakan dan bengkel PD Aneka Usaha kerap mengemuka saat rapat paripurna. Seperti Senin lalu (10/9), saat paripurna penyampaian pandangan umum fraksi terhadap rancangan APBD Perubahan 2018. Fraksi Pembangunan Nasional Rakyat Sejahtera (F-PNRS) mengkritisi dua unit usaha tersebut yang dinilai dalam kondisi sakit. ’’Ini butuh solusi, sementara unit usaha SPBU buktinya sudah berkembang cukup signifikan,’’ ujar Nyamin, jubir fraksi gabungan Partai NasDem, PPP, PKS, dan Hanura itu. (naz/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here