Viral, Puluhan Warga Watu Bonang Hijrah ke Malang

656

PONOROGO – Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, mendadak menjadi pembicaraan santer di media sosial (medsos). Gara-gara banyak warganya yang hijrah ke Malang. Diduga, sebagian warga menjual tanah dan rumah dengan harga murah. Berkisar Rp 10-20 juta. Bahkan, di medsos ramai diperbincangkan alasan hijrah karena mendapat doktrin bahwa kiamat pertama bakal terjadi di desa tersebut.

Kemarin (12/3) Radar Ponorogo mencoba mengulik kebenaran informasi dari medsos itu ke desa terkait. Koran ini sempat menemui Katiyem. Saat ini, menantunya meninggalkan putrinya tanpa alasan jelas. Tanpa tahu persis alasannya meninggalkan rumah sekitar pukul 22.00, Senin lalu (4/3). Putri Katiyem hanya ditinggali pesan bahwa suaminya pergi ke Malang. Menyusul rombongan lain yang sudah berangkat terlebih dahulu. ‘’Heran juga, baru saja nikah sama anak saya,’’ kata Katiyem.

Katiyem turut bersedih mengingat umur pernikahan anaknya baru delapan bulan. Pun belum dikaruniai buah hati. Si menantu berangkat saat hujan lebat dan hanya membawa pakaian. ‘’Gak bawa apa-apa, cuma bawa pakaian dan mungkin sejumlah uang. Anak saya sudah berusaha mencegah,’’ ujarnya.

Beruntung, si menantu tidak menjual harta sebelum pergi. Tiga keluarga lain yang telah berangkat sebulan lalu, dikabarkan telah menjual tanah dan rumah beserta isinya. Hasil penjualan kabarnya digunakan untuk bekal menuntut ilmu di Malang. ‘’Sudah 16 KK (kepala keluarga, Red) yang pergi ke Malang sejak bulan lalu. Berangkatnya tidak bersamaan. Kebanyakan membawa keluarga. Gak pamit juga,’’ kata Sogi, 40, kamitua Krajan.

Kaur pemerintahan desa setempat itu menyayangkan kepergian sebagian warganya dengan alasan yang masih misterius sampai kini. Sogi membeberkan sedikitnya 52 warga telah hijrah. Perinciannya, 23 perempuan dan 29 laki-laki. Secara administrasi, mereka masih menjadi penduduk setempat. ‘’KTP-nya masih tetap warga sini. Karena tidak mengurus surat pindah,’’ terangnya.

Ditanya masalah yang melatarbelakangi, Sogi memastikan tidak ada masalah dengan tetangga. Dia justru menyebut mayoritas warga yang hijrah secara sosial berperilaku baik. Dengan pengetahuan ilmu agama mumpuni. ‘’Gak ada masalah. Mereka baik sama tetangga, begitu juga sebaliknya. Hanya, kami menyayangkan pergi tanpa pamit,’’ tuturnya.

Sedikit informasi yang diketahui Sogi, kepergian puluhan warganya hendak menuntut ilmu di salah satu pondok pesantren di Malang. Entah kapan akan kembali lagi. Pihak desa juga tidak diberi penjelasan. ‘’Yang jual rumah kami tanya jawabnya seperti itu. Nanti kalau balik ke sini terus tinggalnya gimana, kami juga tidak tahu. Yang jelas, mereka tidak mengurus surat pindah,’’ bebernya. (mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here