Pacitan

Disiram Air Panas saat di Sekolah, Punggung Pelajar Melepuh

PACITAN – Aziz Punta Komara tengkurap lemas di ruang Melati RSUD dr Darsono Pacitan Rabu (19/6). Di punggung siswa kelas XI salah satu SLTA di Pacitan itu terdapat luka bakar cukup serius. Dari pangkal leher hingga pinggang melepuh. ‘’Katanya ada yang menyiram air panas,’’ ujar Purwanto, ayah Aziz.

Purwanto tak menyangka, sikap tak biasa anaknya dua hari terakhir bakal berujung memilukan. Aziz langsung mencuci baju seragamnya sepulang sekolah Senin (17/6) lalu. Ternyata dia khawatir bekas noda darah di punggungnya diketahui orang lain. Diduga Aziz disiram orang dari belakang di parkiran sekolah.

Bukannya melapor lantaran mendapat perlakukan tak mengenakkan, remaja 17 tahun itu justru berusaha menutupi. ‘’Memang anaknya agak tertutup tapi baik. Dia diam. Saya tahunya besok sorenya. Padahal lukanya banyak sekali,’’ ujarnya sembari menyebut ada luka robek di bibir anaknya.

Bahkan, sehari setelah kejadian Aziz sempat ke sekolah seperti biasa. Pun dengan punggung melepuh. Kejadian tersebut baru diketahui setelah Selasa (18/7) lalu Aziz minta adiknya memasang plester di punggung. Lantaran iba dengan sang kakak, adiknya menceritakan kepada Purwanto. ‘’Saya tahu malam sekitar Isyak dan langsung saya bawa ke rumah sakit,’’ jelasnya sembari menambahkan Aziz enggan menyebut pelakunya.

Purwanto tak tau pasti jenis air yang disiramka ke punggung anaknya. Warga Desa Karanganyar, Tulakan, itu menambahkan anaknya kerap di-bully lantaran mengalami inklusi sejak beberapa tahun silam. ‘’Kadang anak saya dipalak uangnya, dan dirampas hapenya. Bahkan setiap hari ibunya harus memberi uang saku dobel agar ada uang buat beli bensin,’’ ungkap buruh tani itu.

Namun Aziz selalu menutupi kejadian tersebut. Sebaliknya, dia acap menyalahkan diri sendiri usai mendapat perlakuan itu. Tak jarang Aziz kerap mengutang di warung untuk membeli bahan bakar roda duanya. ‘’Padahal kami buruh tani. Kerja juga sulit. Cari uang susah,’’ kata Purwanto sembari mengungkapakan kasus palak berhenti setelah sekolah mengambil tindakan.

Purwanto berharap pihak sekolah lekas menemukan pelakunya. Sebab, kejadiannya di sekolah. Sempat berencana mengambil langkah hukum dan telah melakukan visum sebagai barang bukti jika diperlukan. Namun, bapak dua anak itu memilih menahan diri menunggu tindakan sekolah guna menyelesaikan masalah. ‘’Saya puas jika pelakunya ketemu dan dapat efek jera, agar tak ada lagi kasus seperti ini menimpa anak lain. Tapi kalau memang diperlukan saya siap bawa ini ke jalur hukum,’’ pungkasnya. (gen/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close