Versi BPS, Pacitan Defisit 6.500 Ton Beras

42

PACITAN – Label daerah ’’pengimpor’’ beras masih melekat pada Pacitan. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, tahun ini Kota 1001 Gua mengalami defisit hingga ribuan ton beras. Dari konsumsi mencapai 60.375 ton, hanya ditunjang produksi sebanyak 53.875 ton. ‘’Dari hasil metode KSA (kerangka sampel area, Red), potensi produksi beras di Pacitan defisit 6.500 ton,’’ kata Kepala BPS Pacitan Bagyo Trilaksono kemarin (14/12).

Dia memerinci, produksi beras 53.875 ton itu berasal dari potensi luas lahan panen Pacitan 19.987 hektare. Lahan sawah rata-rata menghasilkan 6,3 ton per hektare dan lahan kering 4,6 ton. ‘’Sementara, kebutuhan konsumsi satu keluarga rata-rata 11 kilogram per tahun,’’ urainya.

Menurut dia, defisit tersebut disebabkan berbagai hal. Salah satunya lahan pertanian Pacitan yang mayoritas bukan jenis irigasi, melainkan lahan kering atau yang biasa ditanami pari gogo. Itu pun produktivitasnya rendah. Tidak bisa menghasilkan panen sebanyak dua hingga tiga kali setahun.

Kondisi tersebut, lanjut Bagyo, memaksa warga Pacitan mendatangkan beras dari daerah lain untuk mencukupi kebutuhan konsumsinya. Pun, sesuai informasi yang diperolehnya dari dinas perindustrian dan perdagangan (disperindag) setempat, menurutnya beras kemasan dari luar daerah seperti jenis rojolele dan tawon bertebaran di pasaran. ‘’Sebagian warga Pacitan pakai ketela pohon sebagai campuran,’’ tuturnya.

Meski begitu, Bagyo mengingatkan pemkab ancaman kelangkaan bahan pangan. Pasalnya, hasil pantauan petugas di lapangan, luasan lahan tanam ketela pohon semakin berkurang. ‘’Banyak juga warga yang awalnya menanam ketela mengganti dengan pohon sengon. Selain karena perawatannya lebih mudah, punya nilai jual tinggi. Apalagi, tanaman ketela juga sering diserang hama babi hutan,’’ jelasnya.

Dia menambahkan, penggunaan metode KSA untuk menghitung defisit produksi beras berawal dari ketidakakuratan data produksi padi sejak 1997. Lantas, pada 2015 dilakukan perbaikan metodologi penghitungan. BPS bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementrian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Badan Informasi dan Geospasial (BIG), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). ‘’Metodologi ini masih perlu penyempurnaan,’’ pungkasnya. (odi/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here