Usung Game Ouzi The Healer, Dua Pelajar SMA Ini Menangi Kompetisi se-Asia Tenggara

151

Luar biasa. Nama Kabupaten Ngawi kembali mendunia. Fauzan Amir Al Ghiffary dan  Fitriani Khanifatun berhasil memenangi 2nd Phase of Southeast Asia Creative Camp yang digelar Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) atau perkumpulan para Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) se-Asia Tenggara.

GERAKAN tangan Fauzan Amir Al Ghiffary begitu lincah ketika mengoperasikan laptop miliknya. Jemari tangannya seakan menari-nari di atas keyboard komputer jinjing itu. Tak berapa lama, dia menunjukkan aplikasi game online karyanya bersama Fitriani Khanifatun. Perempuan itu game designer dan juga gurunya di SMAN 1 Kendal, Ngawi. ’’Ini nama game-nya Ouzi The Healer,’’ kata Fauzan sembari menunjukkan gambar kartun bertuliskan kata seperti yang dia ucapkan itu.

Saat ditemui di sebuah ruang lobi sekolah kemarin, keduanya tampak kompak. Tidak hanya berseragam sama, merah-merah. Tapi, keduanya juga saling berbagi peran untuk menjelaskan. Fauzan sibuk menunjukkan jalannya permainan di laptop, sedangkan Fitriani menjelaskan detail permainan Ouzi the Healer tersebut berikut konsepnya. ’’Yang jelas, game ini berisi tentang edukasi, jadi education games. Materinya tentang pelajaran biologi,’’ ujar Fitriani yang juga guru biologi di sekolahnya.

Jika diamati secara sekilas, Ouzi the Healer hampir sama dengan mayoritas game online di android atau sebagainya. Tampilannya berupa kartun dua dimensi yang bisa dibilang cukup sederhana tapi menarik. Inti dari permainan Ouzi The Healer adalah misi seorang Ouzi yang berjuang membebaskan Ordict dari pengaruh virus yang diciptakan dr Hellish. Jika digambarkan ceritanya dari awal, permainan tersebut mengisahkan sebuah perusahaan yang dinamai The Primzer bergerak di bidang farmasi.

Dalam perusahaan tersebut terdapat seorang dokter bernama dr Hellish. Karena memiliki misi jahat, dr Hellish menciptakan makhluk yang dinamai Ordict, singkatan dari Organism Desaign for Infecting atau makhluk yang diciptakan untuk menginfeksi. Tugas Ouzi, yang diambil dari nama Fauzan -pencipta game tersebut- bertugas menciptakan antivirus untuk para Ordict. Tidak hanya itu, dalam petualangannya, Ouzi harus menembakkan serum yang sudah dibuatnya itu ke tubuh Ordict supaya terbebas dari infeksi virus.

Karena Ouzi the Healer merupakan game online, maka di dalam permainan itu juga diselipkan materi tentang pelajaran biologi. Tema yang diambil tentang sistem imunitas atau kekebalan tubuh, sesuai dengan materi pelajaran biologi kelas XI semester II. Menariknya, selipan materi yang isinya tentang pelajaran biologi itu tetap didesain apik oleh Fauzan dan Fitriani. Sehingga kesannya masih dalam sebuah permainan game online. ‘’Kaya tantangan untuk memecahkan masalah gitu. Jadi, Ouzi selaku aktornya harus bisa menyelesaikan masalah itu agar bisa melanjutkan permainan ke level berikutnya,’’ terang perempuan asli Semarang itu.

Dalam permainan Ouzi the Healer terdapat tiga level. Masing-masing memiliki tingkat kesulitan berbeda. Termasuk materi problem solving yang diselipkan, tingkat kesulitan pemecahannya mengikuti level permainan. Game yang memiliki genre platform game itu sengaja dibuat untuk mengikuti lomba 2nd Phase of Southeast Asia Creative Camp. Lomba yang diinisiasi Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) atau perkumpulan para Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) se-Asia Tenggara. Kebetulan dalam lomba itu Fauzan mendapatkan juara I untuk siswa dan Fitriani mendapat juara I untuk guru. ‘’Kami daftar sendiri. Setelah dapat informasinya tentang lomba itu, lalu mendaftar melalui online,’’ terang Fitriani.

Saat itu kurang lebih sekitar dua bulan lalu. Setelah mendaftar, Fitriani dan Fauzan mengikuti workshop educational games for teacher (permainan pembelajaran untuk guru) yang juga diselenggarakan SEAMEO. Kebetulan dalam lomba tersebut semuanya menggunakan sistem online. Setelah ikut workshop, lalu tugas peserta adalah membuat sebuah program permainan. ’’Kenapa kami milih biologi, itu mungkin karena saya seorang guru biologi. Alasan lain karena menurut siswa, materi tentang imunitas itu agak susah dipelajari, makanya dibuat game ini,’’ paparnya.

Selama proses pembuatannya, peserta lomba hanya diberikan waktu sebulan. Namun, sebelumnya Fitriani dan Fauzan sudah lebih dulu mengantongi konsepnya. Sehingga saat start lomba, persiapan keduanya sudah matang. Mengenai kesulitan membuat game Ouzi the Healer itu pada proses pemrogramannya. Kebetulan software yang digunakan adalah software construct yang dibatasi hanya 100 event karena gratisan. ’’Padahal materinya banyak. Jadi ada yang dikurangi, digabung supaya muat semua. Kalau melebih 100 event kena biaya mahal nanti,’’ kata Fauzan selaku game programer.

Fitriani maupun Fauzan tak menampik sengaja mencari semua yang gratisan. Maklum, semuanya modal sendiri. Karena jika membeli software dipastikan habis puluhan juta rupiah. Karena itu, wajar jika keduanya tidak menyangka Ouzi the Healer dipilih sebagai juara dalam lomba tersebut. Tidak hanya karena modal gratisan, tapi dalam lomba tersebut diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara. Apalagi jika melihat karya-karya dalam lomba pertama dulu yang bagus-bagus. ‘’Surprise banget pokoknya, nggak nyangka sama sekali,’’ ungkap pelajar XII IPA itu semringah.

Nah, sekarang setelah menjadi juara, Fitriani dan fauzan tidak hanya berhak mendapatkan hadiah. Tapi, keduanya juga mendapat kesempatan mengikuti ekspo internasional Worlddidac di Bangkok, Thailand, pada 10-12 Oktober 2018 nanti. Mereka tidak hanya berhak mengisi salah satu stand di ekspo tersebut, tapi sekaligus menjadi pemateri dalam acara itu dan lomba serupa untuk gelombang ketiga. ‘’Juara sebelumnya juga begitu, diwajibkan menjadi pemateri untuk lomba berikutnya,’’ ungkapnya.

Di samping itu, keduanya juga bakal mengikuti lomba lagi di SEA Creative Camp, tapi beda jalur. Yang akan diikuti yakni lomba membuat Augmented Reality (AR) model. Sedangkan untuk game online karyanya itu rencananya akan dibuat sebagai bahan pembelajaran di sekolahnya. Karena modelnya html jadi bisa diakses semua orang. Termasuk melalui website-nya. Rencananya juga akan di-share ke pelajar lain supaya bisa digunakan untuk bahan pembelajaran. ’’Masih kami siapkan untuk aplikasi androidnya,’’ ujar Fauzan.

Apa yang sudah dicatat Fitriani dan Fauzan sebenarnya tidak sekadar prestasi lomba. Tapi lebih dari itu, mereka telah membuat inovasi tentang pembelajaran berbasis multimedia. Spesifikasinya yakni educational game. Tentu ini menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan instansi terkait untuk pembelajaran sekolah-sekolah khususnya di lingkup Kabupaten Ngawi.

Sementara itu, prestasi yang diraih Fitriani dan Fauzan itu juga membuat bangga Kepala SMAN 1 Kendal Agus Supriyono. Prestasi itu merupakan hasil dari pengembangan komunitas peneliti yang sengaja didirikan di sekolahnya. Bagi Agus, prestasi yang diraih Fitriani dan Fauzan itu semestinya bisa dijadikan inspirasi bagi guru dan siswa SMAN 1 Kendal maupun sekolah di Ngawi. ’’Sebagai anak desa, jangan pernah berkecil hati, karena semuanya bisa berprestasi. Fauzan contohnya,’’ ungkapnya bangga.

Namun, di balik rasa gembiranya melihat guru dan siswanya terus melaju di ajang internasional, di sisi lain Agus sempat kebingungan. Karena semakin tinggi kompetisi yang diikuti tentu semakin besar pula biaya yang dibutuhkan.

Saat ini Agus masih berusaha mencarikan biaya untuk Fauzan dan Fitriani berangkat ke Bangkok, Thailand, sebagai peserta sekaligus pemateri dalam event bergengsi tingkat internasional itu. ’’Karena kasihan kalau sampai tidak berangkat. Apalagi ini membawa nama Ngawi di dunia internasional, bukan hanya pribadi mereka,’’ ucapnya sembari menyebut butuh biaya sekitar Rp 22 juta untuk dua orang ke acara ekspo di Bangkok, Thailand, itu. (tif/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here