Usul Nama Stasiun Barat Diubah Jadi Stasiun Magetan

2277

MAGETAN – Harapan Bupati Magetan Suprawoto agar Stasiun Barat bisa menjadi lokasi pemberhentian kereta api (KA) eksekutif mentah. Kepastian itu didapat setelah dirinya bertandang langsung ke kantor Daop VII Madiun kemarin (12/2).

Dalam pertemuan tersebut, dia mendapatkan penjelasan detail terkait keinginannya tersebut dari pihak Daop VII Madiun. Di mana usulan penambahan KA eksekutif di Stasiun Barat yang disodorkannya bergantung pada putusan PT KAI. ‘’Tapi, saya punya inisiatif lain ingin mengubah nama Stasiun Barat menjadi Stasiun Magetan,’’ katanya.

Pergantian nama stasiun itu, menurut dia, disesuaikan dengan nama daerah. Tidak hanya nama wilayah. Dengan harapan, Magetan bisa makin dikenal orang banyak. Sekaligus membangun persepsi orang bahwa ada kereta api yang transit di Magetan. ‘’Ini masih angan-angan, belum saya bicarakan dengan PT KAI. Tapi, akan segera saya obrolkan,’’ ujar bupati yang akrab disapa Kang Woto itu.

Kendati begitu, dia menyadari untuk merealisasikan keinginan itu tak mudah. Karena prosesnya melibatkan banyak pihak. Seperi halnya menjadikan Stasiun Barat sebagai lokasi pemberhentian KA eksekutif. ‘’Prosesnya memang tidak mudah. Tapi, bukan berarti tidak mungkin. Perlu dicoba,’’ tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Manager Humas Daop VII Madiun Ixfan Hendriwintoko menjawabnya diplomatis. Karena perubahan nama stasiun itu bisa saja dilakukan, tapi juga bisa tidak. Yang jelas, mekanismenya harus melalui kajian. ‘’Kalau mau (mengusulkan) perubahan nama stasiun, silakan ajukan usulan lagi (ke PT KAI, Red),’’ ucapnya.

Diakuinya, nama Stasiun Barat sudah ada sejak pemerintah kolonial Belanda lalu. Pembangunan dan penamaan stasiun kelas II itu sengaja mengedepankan aspek kewilayahan.

Menurut Ixfan, itu sama seperti Stasiun Kertosono di Nganjuk. Di mana nama stasiun itu diambil dari nama wilayah kecamatan, bukan daerah asal. Jika berencana mengusulkan perubahan nama stasiun tersebut, kata dia, harus mendapat persetujuan PT KAI. Selain itu, berdasar dari hasil kesepakatan dengan pihak muspika. ‘’Hubungan sosial masyarakat di sekitar stasiun juga harus dipikirkan,’’ tekannya.

Di pihak lain, pelaksana pembangunan Stasiun Barat Haryogi mengatakan pihaknya memang sempat merasa bingung perihal pembuatan papan nama stasiun. Karena ada dua tulisan nama yang disodorkan kepadanya untuk dipasang di muka bangunan stasiun. Yaitu, Stasiun Barat dan Stasiun Magetan. ‘’Tapi, hasil keputusan dari Daop VII Madiun, (papan) namanya tetap bertuliskan Stasiun Barat,’’ ungkapnya. (bel/c1/her)

1 COMMENT

  1. Apa tidak lebih baik membuka akses kereta listrik atau komuter antara kota magetan dng stasiun barat…karena banyak hal yg bisa di lakukan. Alasan pertama magetan sebagai kota wisata harus ada akses langsung dgn kota lain lebih mudah. Kedua magetan punya kawasan pondok temboro yg mempunyai santri ribuan dan jamaah tabligh setiap waktu keluar masuk magetan. Ketiga magetan punya lahan jalan bekas rel tebu yg bisa di alih fungsikan menjadi rel komuter atau kereta listrik. Ke empat magetan harus bisa menikmati adanya program doubel trek PT KAI untuk kesejahteraan masyarakat. Ke lima magetan tidak punya akses exit tol….atau pintu keluar masuk ke tol. Beda seperti ngawi dan madiun, ini berdampak langsung magetan tdk menjadi singgahan pengguna tol. Ke enam dampak langsung kereta listrik bisa ramah lingkungan (non polutif). Pemberhentian penumpang/halte akan menghidupkan perekonomian masyarakat setempat. Ini harusnya yg harus di perjuangkan pemerintah magetan agar masyarakat magetan tdk jadi penonton saja…mohon maaf bila tdk berkenan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here