Usia Masjid 250 Tahun, di Pintu Ada Bekas Peluru

180

TAK hanya makam Kiai Ageng Basyariah, Masjid Agung Sewulan atau Masjid Kiai Ageng Basyariah juga menjadi tanggung jawab Abdul Rohman bin Kyai Muhammad Komarudin. Pun, dia membantu takmir masjid dalam melayani para tamu yang ingin tahu kisah dan sejarah masjid yang dibangun pada tahun 1742 itu.

—————————-

FATIHAH IBNU FIQRI, Dagangan

USAI bercerita soal sejarah Kiai Ageng basyariah, Abdul Rohman mempersilakan Radar Caruban untuk mengunjungi Masjid Agung Sewulan. Letak masjid tersebut hanya berbatas tembok dengan kompleks pemakaman. Masjid itu cukup luas dan memiliki arsitektur mirip Masjid Demak yang memiliki atap berundak dan maskin meruncing ke atas berbentuk limas segiempat.

Sementara itu, di depan masjid terdapat dua pohon besar. Yakni pohon sawo tanjung dan mentega. Sebenarnya ada satu lagi pohon yakni sawo kecik namun sudah dibabat. Pohon – pohon itu melengkapi simbol filosofi dari para pengunjung masjid. Mereka masuk dari gapura yang dalam bahasa Arab erat kaitannya dengan Ghofuro atau ampunan dari yang Maha Kuasa.

Kemudian, melewati pohon sawo kecik yang makusdnya ditunjukkan kabecikan atau kebaikan. Pun, kemudian ada pohon tanung yang erat kaitannya dengan dijunjung setelah tahu kebaikan. ’’Terakhir, pohon mentega yang harum yang bermakna orang – orang baik tersebut harum namanya,’’ jelas Abdul kepada Radar Caruban.

Dan setelah itu ada kolam yang ada di depan masjid. Kolam tersebut memiliki makna bahwa siapa saja yang ingin masuk ke masjid harus suci. Air kolam tersebut dulunya berasal dari sungai yang airnya dulu masih bersih. Namun, kini air tersebut diambil dari sumur . Pun, kolam tersbeut memang juga menjadi salah satu tempat untuk berwudu. Sehingga, kolam tersebut memang masih ada airnya. ’’Kolamnya cukup dalam untuk yang bagian samping kanan dan kiri tempat wuduh yagberada di tengah dan lurus dengan pintu masik,’’ katanya.

Pun, akhirnya sampailah pada bagian depan masjid. Terdapat dampar lebar terbuat dari jati. dampar tersebut dicat warna biru telur bebek yang hampir pudar. Tingginya hanya sekitar 30 sampai 40 sentimeter. Lebarnya sekitar  3 meter. Panjangnya sekitar 1,5 meter. Dampar itu digunakan untuk masyarakat yang ingin tadarusan. Pun kalau hari – hari biasa digunakan anak-anak TPA untuk belajar membaca Alquran. ‘’Usia dampar ini sama seperti usia masjid ini,’’ ungkap Abdul.

Abdul lantas menunjuk ke arah pintu utama masjid yang saat itu tertutup. Ada ukiran-ukiran khas keraton yang jadi pemanis pintu berbahan jati tersebut. Tidak terlalu tinggi atau besar. Tapi pintu itu nyaris tak berubah sama sekali. Bahkan, tak ada tanda –tanda lapuk meski sudah berusia lebih dari 250 tahun. Meski saat pemugaran pun, pintu itu juga tidak diganti. ‘’Jadi memang usianya sudah tua sekali,’’ ungkapnya.

Kemudian, dia memang tak membuka pintu itu. Dia mempersilakan untuk masuk masjid lewat pintu  di samping kiri pintu utama masjid. Kemudian, dia lantas menunjukkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Tangga itu memang mencapai bagian atas masjid yang masih terdapat ruang dan memiliki penutup. Penutup itulah yang bisa dibuka untuk menuju ke luar atap. ’’Tangga itu juga cukup lama,’’ katanya.

Kemudian hampir di sekeliling masjid terdapat jendela. Cukup lebar. Bahkan, tembok tempat menempelnya jendela itu bisa digunakan untuk duduk. Namun, sayangnya, bukan pemandangan indah yang menanti jika jendela itu terbuka. Hanya deretan nisan yang ada di samping masjid. Maklum, masjid tersebut memang hanya gandeng tembok dengan makam. Sementara di sisi lain masih ada lagi jendela. ’’Tapi sudah ada ruangan lain di sampingnya,’’ ungkapnya.

Di dalam masjid, terdapat empat sokoguru atau tiang yang menyangga bagian dalam masjid. Pun, tiang – tiang itu pun juga memiliki ukiran – ukiran yang mirip dengan pintu masjid. Masih terbawa corak dari Mataraman. Sementara, di ruangan imam, masih terdapat mimbar. Bukan seperti mimbar modern bentuknya. Tapi, lebih mirip mimbar zaman dulu. Yang bicara di atas mimbar pun harus bersila, tidak berdiri. ’’Masih terjaga keasliannya,’’ katanya.

Bahkan, ada juga bekas lubang peluru di pintu. Abdul menyebut kalau ada insiden saat zaman belanda. Ada salah seorang ulama yang saat Salat Dhuha di masjid, ditembak dari luar masjid. Pun, padahal pintu masjid saat itu ditutup. Namun, peluru masih bisa menembusnya. Bekasnya masih ada. Namun, pintu itupun dilapisi dengan kayu di bagian luarnya. ’’Supaya tidak kelihatan kalau bolong,’’ katanya.

Selebihnya, memang untuk perawatan masjid ada di tangan takmir. Dia pun menyerahkan soal itu ke takmir. Sementara kalau untuk menemai para pengunjung masjid yang ingin tahu sejarah dirinya dengan senang hati menemani dan memberikan penjelasan. Namun, itu hanya ketika kondisi memungkinkan. Pasalnya, kalau sudah mendekati akhir puasa, banyak sekali kegiatan di masjid. ’’Ada salat lailatul qadr di malam-malam ganjil. Dan siangnya juga pasti ramai peziarah makam,’’ katanya. *****(ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here