Usia Kepala Tujuh, Soetjipto Masih Enggan Berpaling dari Beduk

120

NGAWI – Hidup Soetjipto kadung lekat dengan beduk. Kakek 71 tahun tersebut sudah puluhan tahun membuat alat pengingat waktu salat itu. Semua tahapan pembuatan, baik beduk berbahan kayu batangan maupun utuh, dikerjakannya seorang diri.

————————-

Pelataran rumah Soetjipto di Jalan Raya Ngawi-Mantingan masuk Desa Kebon, Paron, tampak disesaki tumpukan kayu. Siang itu dia sedang melubangi batangan kayu dengan bor. Dengan posisi jongkok dan bertelanjang dada, dua lengannya yang tak lagi kencang itu kuat menekan pegangan bor. ‘’Buat lubang untuk pengancing beduk,’’ kata Soetjito.

Satu penyangga dan dua buah beduk beda ukuran di teras dilewati Soetjipto sebelum masuk rumah. Di samping beduk terdapat sejumlah pengunci berbahan kayu dalam sebuah wadah. Agak ke dalam terlihat beberapa velg motor tersandar di sudut ruangan. ‘’Itu untuk membuat lingkar beduk kalau bahannya kayu potongan,’’ ujarnya.

Predikat pembuat beduk disandang Soetjipto sejak puluhan tahun silam. Beduk salah satu masjid di desanya menjadi beduk pertama yang terlahir dari tangan terampilnya. Karya perdana terlahir, dia akhirnya membuka jasa pembuatan beduk. ‘’Dulu alatnya masih sederhana. Pasang kulit beduknya pakai tali berbahan bambu,’’ terang kakek 71 tahun itu.

Dulu Soetjipto butuh waktu hingga belasan hari untuk membuat satu beduk. Sekarang, lantaran didukung peralatan modern, satu buah beduk mampu dirampungkannya lima hari. ‘’Dulu itu mengencangkan kulit beduk saja bisa sampai tiga hari, sekarang cukup sehari,’’ ungkap kakek delapan cucu ini.

Semua tahap pembuatan beduk dilakukan Soetjipto sendirian. Mulai merakit kayu, menghaluskan permukaannya, mengencangkan kulit, hingga finishing. Dia enggan mempekerjakan orang dengan alasan menjaga kualitas. Sebab, membuat beduk butuh orang yang benar-benar telaten. Pun memiliki keterampilan dalam dunia perkayuan. Termasuk mengencangkan bentangan kulit beduk dan memakunya dengan paku kayu. ‘’Kalau capek, ya istirahat,’’ ucapnya.

Selain menggunakan kayu batangan, Soetjipto juga bisa membuat beduk dengan kayu utuh. Cara yang dilakukan suami Sunartin ini adalah membuat lubang pada kayu, lalu dibakar. ‘’Dulu tangan saya terbakar, harus opname di rumah sakit selama dua minggu,’’ ungkapnya sambil menunjukkan bekas luka bakar di kedua lengannya.

Belasan tahun menekuni pembuatan beduk, berbagai ukuran alat pengingat waktu salat itu telah dibuatnya. Tak sedikit masjid di Bumi Orek-Orek yang memasang beduk buatan Soetjipto. Dari situ pula Soetjipto mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Kendati sudah sepuh, hingga kini ayah lima anak itu tidak mau menanggalkan pekerjaannya sebagai pembuat beduk. ‘’Sebenarnya sering diminta istirahat, tapi malah bingung nanti kalau tidak ada kesibukan,’’ ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, order perbaikan beduk kini lebih sering datang kepada Soetjipto. Mendatangi satu masjid ke masjid lain, peranti perentang kulit beduk tak ketinggalan dibawanya. ‘’Kalau sudah kenal, biasanya saya diminta datang ke masjid.  Tapi, ada juga yang membawanya ke sini,’’ ungkapnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here