Opini

Upaya Berlapis

DALAM sepekan terakhir ada banyak upaya yang kita lakukan untuk menekan penularan Covid-19. Dari penyemprotan di kelurahan-kelurahan, operasi rutin tim Satgas Covid-19, operasi yustisi, hingga Tim Covid Hunter. Upaya yang kita lakukan berlapis-lapis. Upaya ini cukup berhasil. Tidak ada kasus baru di empat hari terakhir sejak Rabu kemarin (16/9). Sebaliknya, ada enam kasus sembuh dalam tiga hari di antaranya.

Tingkat kesembuhan kasus Covid-19 di Kota Madiun memang cukup tinggi. Hingga, Minggu (20/9) ada 104 kasus Covid-19 dengan 88 di antaranya telah sembuh. Artinya, tingkat kesembuhan mencapai 84,62 persen. Itu memang tak terlepas dari upaya dan doa kita bersama. Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para petugas. Mereka adalah pejuang dalam perang era masa kini. Perang melawan Covid-19. Saya tahu mereka bekerja lebih keras dari biasanya, beristirahat lebih singkat dari waktu normalnya, hingga banyak mengorbankan waktu bersama keluarga.

Di saat pagi, sudah ada penyemprotan di kelurahan-kelurahan. Dalam satu hari bisa dua sampai tiga kelurahan sekaligus. Mereka masih harus menggelar razia malam harinya. Apel biasa kita mulai pukul 20.00. Kadang juga pukul 21.00. Menjelang pukul 22.00 petugas mulai bergerak. Mengingatkan mereka yang menggerombol. Memberikan hukuman mereka yang tak pakai masker. Kadang harus kejar-kejaran. Kadang harus diwarnai caci makian. Padahal demi kebaikan.

Saya pernah memakai APD saat penyaluran bantuan di rumah sakit. Baru sebentar, keringat mengucur deras. Rasanya memang panas. Karena tak seperti baju yang berpori. Angin tak dapat masuk. seperti jas hujan. Tapi lebih rapat lagi. Bayangkan petugas kesehatan yang harus memakai itu berjam-jam setiap hari. Begitu juga petugas pemulasaran jenazah Covid-19. Mereka harus mengembalikan tanah galian kubur dengan memakai APD seperti itu. Bermandikan keringat tentu. Sudah begitu, mereka tidak boleh makan minum sampai pekerjaan selesai.

Ini baru dari sisi petugas. Covid-19 juga merenggut kebahagiaan masyarakat. Tatkala satu anggota keluarga terjangkit, mereka akan sulit bertemu dan bercengkerama seperti biasa. Semua harus dibatasi. Kalau sampai isolasi rawat inap di rumah sakit, keluarga hanya melihat dari luar ruang. Bahkan kalau yang bersangkutan meninggal, melihat untuk kali terakhir pun sulit. Petugas akan melarang. Semua urusan pemulasaraan juga dilakukan petugas. Anggota keluarga tak diperbolehkan. Padahal urusan pemulasaraan jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir. Ini mengapa Covid-19 merenggut kebahagiaan kita.

Karenanya, saya instruksikan untuk tegas. Aturannya jelas. Mulai Perwal Nomor 39, Pergub Nomor 53, hingga Inpres Nomor 6. Kita dapat dukungan penuh TNI/Polri. Semua turun membantu. Ada sanksinya. Mulai teguran, lisan, administratif, hingga kerja sosial. Sanksi memang sebagai hukuman. Agar mereka jera. Agar jadi pembelajaran bagi yang lain. Namun, aturan sejatinya juga untuk menyelamatkan warga yang terancam. Agar kasus tak mengganas. Agar kebahagiaan kita tak terampas.

Masker merupakan perlindungan pertama. Kedua, dengan berjaga jarak. Mereka yang tidak memakai masker bisa dibilang tengah terancam. Bagaimana tidak, Covid-19 bisa berada di mana saja. Bahkan, di lingkungan keluarga. Kasus yang ada harus jadi pembelajaran. Banyak penularan malah dari anggota keluarga. Entah sanak saudara maupun teman kerja. Masyarakat biasanya lengah tatkala bertemu dengan sesama anggota keluarga maupun teman kerja. Karena kenal, mungkin sungkan kalau harus pakai masker. Harus jaga jarak. Padahal sebelumnya pelaku perjalanan atau punya riwayat sakit. Ujungnya, ikut tertular.

Apalagi di tempat umum. Ada banyak orang yang tak kita kenal. Yang tidak kita ketahui riwayat sebelumnya. Mungkin saja ada yang baru pulang dari luar kota. Mungkin saja ada yang pulang dari menjenguk saudara. Mereka berpotensi menularkan biarpun terlihat sehat. Potensi penularan semakin besar tatkala tak memakai masker. Masker setidaknya menekan penularan hingga 75 persen. Karenanya, petugas turun setiap hari menyelamatkan mereka yang terancam ini. Menyelamatkan dengan memberikan sanksi sebagai pembelajaran agar tak terulang. Menyelamatkan agar kebahagiaan tak menghilang.

Upaya yang kita lakukan sudah luar biasa. Saya harap masyarakat bekerja sama. Mari kita patuh protokol kesehatan. Kita patuhi aturan dan anjuran. Jangan hanya menangnya sendiri. Ini bukan urusan satu pribadi. Tapi berkaitan dengan banyak orang. Upaya berlapis ini harusnya didukung partisipasi masyarakat. Setidaknya, dengan berdisiplin protokol kesehatan. Ini demi kebaikan bersama ke depan.

Penulis adalah Wali Kota Madiun Drs. H. Maidi, SH, MM, MPd

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

?php /** * The template for displaying the footer * */ defined( 'ABSPATH' ) || exit; // Exit if accessed directly do_action( 'TieLabs/after_main_content' ); TIELABS_HELPER::get_template_part( 'templates/footer' ); ?>
Close
               
         
close