Unjuk Rasa, PGI Desak Pencopotan Plakat Mejayan

492

MEJAYAN – Polemik penggantian nama Caruban menjadi Mejayan kembali diungkit. Masyarakat yang mengatasnamakan Pentas Gugat Indonesia (PGI) menggelar unjuk rasa (unras) di kompleks Taman Kota Mejayan Asti, Senin (24/9). Ada tiga hal yang disampaikan dalam demo yang diakhiri dengan penutupan kata Mejayan pada plakat identitas taman. ‘’Tiga hal itu adalah menolak, menuntut, dan melapor,’’ kata koordinator unras Sujono.

Sujono menolak pemasangan nama Mejayan pada lima titik ikonik di Kecamatan Mejayan. Selain taman kota, juga dua gapura masuk di sebelah barat DPRD Kabupaten Madiun dan berbatasan Desa Ngepeh, Saradan. Serta rest area di wilayah eks pasar burung dan alun-alun. Pemkab dituntut segera melakukan pencopotan jika tak ingin dilaporkan. ‘’Kami menduga pemkab curi start memasang nama kota Mejayan yang belum memiliki pijakan hukum,’’ ujarnya.

PGI menilai langkah pemkab menggunakan dua ketentuan dalam mengubah nama ikon dari Caruban menjadi Mejayan tidak tepat. Yakni, Peraturan Pemerintah (PP) 52/2010 tentang Perpindahan Pusat Pemerintahan Kabupaten Madiun dari Kota Madiun ke Kecamatan Mejayan. Juga, Perda 9/2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dalam orasinya, PGI memandang dua ketentuan itu sebagai masterplan pengembangan kota-perkotaan, pembagian kawasan dan fungsinya periode 2009–2029. ‘’Dua aturan itu bukan untuk penetapan nama kota,’’ tegas Sujono.

Di mana letak curi startnya? Sujono menjelaskan, revisi PP 52/2010 sedang digodok oleh Kemendagri. Karena hasilnya belum keluar, seharusnya pemkab tidak bisa memaksa memasang tulisan Mejayan pada sejumlah ikon. Langkah tersebut dianggap mencederai proses birokrasi yang sedang berjalan. ‘’Biar fair. Kalau tidak bisa dikembalikan menjadi Caruban, jangan pakai nama Mejayan,’’ desaknya.

Persoalan ketidaktepatan itu dicontohkan pada plakat bertuliskan Taman Kota Mejayan Asti. Menurutnya, penggunaan Kota Mejayan tidak pas karena menafsirkan bahwa Mejayan adalah kota. Padahal, Mejayan merupakan kecamatan. Sehingga, dia menilai pengambilan nama yang tepat adalah Taman Perkotaan Mejayan. Perkotaan tersebut bisa diartikan sebagai sebuah kawasan. ‘’Karena tidak tepat inilah maka harus dicopot,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan.

Sujono mengungkapkan, unras kemarin adalah aksi yang kedua. Aksi pertama dilakukan Mei tahun lalu dengan mengkritisi PP 52/2010. Kala itu, identitas ikon Kecamatan Mejayan di beberapa titik memang sudah berubah. Namun, pihaknya sengaja tidak memprotes pergantiannya dengan alasan jeda waktu proses revisi PP ke pemerintah pusat. Dia juga menampik ketika disinggung aksi unras kemarin agar menjadi atensi bupati baru. ‘’Kalau masalah mencopot nama ikon, kami tidak mengarah ke bupati. Silakan OPD (organisasi perangkat daerah, Red) yang berwenang menindaklanjuti,’’ paparnya.

Sebanyak 10 orang unras selama setengah jam sejak pukul 09.30. Enam di antaranya membentangkan enam spanduk kecil bertuliskan Copot Nama Kota Mejayan.  Musik dengan syair berulang Cukup Caruban Saja mengiringi demo yang dikawal ketat polisi. Setelah puas menyampaikan orasi dan tuntutan, PGI mengakhiri demo dengan menutup plakat tulisan Mejayan dengan spanduk bertuliskan Caruban dengan kata saja berukuran kecil di bawahnya. Banner berukuran sekitar 5×1 meter itu dikaitkan menggunakan kawat. ‘’Kami beri tenggat waktu seminggu ke pemkab untuk mencopot nama Mejayan di lima ikon itu,’’ ujarnya.

Bila sampai Senin (1/10) tidak ada tanggapan, pihaknya bakal melapor ke Polres Madiun. Menurutnya, langkah memasang plakat Mejayan itu memenuhi perbuatan melanggar hukum. Sebab, pembangunannya menggunakan dana APBD, tanpa pijakan hukum. ‘’Kamis lalu (20/9) secara tertulis kami sudah melayangkan surat ke pemkab. Semoga ada respons,’’ ucapnya.

Sementara, Kabag Administrasi Tata Pemerintahan Sekdakab Madiun Soedjiono belum bisa dimintai keterangan ihwal unras PGI. Dia tidak mengangkat ketika nomor handphone-nya dihubungi. Pesan WhatsApp yang dikirimkan hanya dibaca tanpa dibalas. (cor/c1/fin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here