Pacitan

UNBK SMP/MTs: Trauma Mati Lampu

PACITAN – Insiden mati lampu pada hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA/MA lalu membuat Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan trauma. Organisasi perangkat daerah (OPD) ini waswas kejadian serupa berulang saat pelaksanaan UNBK SMP yang dijadwalkan mulai 22 April nanti.

Meski telah dilakukan penandatanganan kesepakatan dengan PLN, namun tidak ada jaminan mati lampu. Sehingga, jika bena-benar terjadi kembali bakal mengganggu pelaksanaan ujian, pun membuat mental para peserta drop. ‘’Kami sudah koordinasi dengan PLN dan Telkom untuk listrik dan jaringan internet,’’ kata Kepala Dindik Pacitan Daryono kemarin (8/4).

Menurut Daryono, kondisi geografis Pacitan berpotensi membuat jaringan listrik dan internet terganggu. Apalagi jika hujan mengguyur. Dia berharap jika listrik padam para peserta ujian tidak panik. Sebab, jika listrik mati pagi hari, ujian bakal disusulkan sesi berikutnya. Sebab, UNBK SMP dilaksanakan tiga sesi. ‘’Jadi kalau pagi tidak bisa dilaksanakan bisa disusulkan di dua seksi berikutnya,’’ ujarnya.

Mayoritas SMP di Pacitan, lanjut Daryono, menggelar dua hingga tiga sesi. Meski memakan waktu, namun memudahkan untuk mengantipasi pemadaman listrik. Dia memastikan tiga sesi tersebut seluruh bobot ujian dihitung sama. ‘’Jika sekolah bisa melakukan satu sesi berarti jumlah siswa dan komputer cukup. Namun kalau perbandingannya setengahnya berarti dua sesi dan seterusnya,’’ jelas Daryono.

Dari 70 SMP di Pacitan, seluruhnya menyelenggarakan UNBK. Berdasarkan kebijakan bupati, tak ada lagi sekolah yang ujian nasional kertas pensil (UNKP). Namun, belum semua sekolah dapat menyelenggarakan UNBK mandiri. Beberapa di antaranya nebeng di sekolah lain lantaran keterbatasan alat dan jaringan. ‘’Sekitar 12 sekolah negeri belum mandiri dan harus menumpang,’’ ungkapnya sembari menyebut total sekolah swasta 20 dan negeri 50 sekolah.

Mayoritas sekolah yang belum  mandiri di wilayah pinggiran. Pun kondisi medan yang sulit membuat jaringan internet sulit menjangkau. Sedangkan jika dipaksakan memasang jalur baru butuh biaya besar. Apalagi tak ada jaminan jaringan maksimal mendukung ujian. ‘’Jadi lebih baik nebang ke sekolah yang terjangkau jaringan,’’ tambahnya.

Dia berharap tak ada pemadaman listrik. Namun pihaknya meminta setiap sekolah penyelanggara untuk mengantisipasi dengan menyiapkan ganset. Itu untuk meminimalisasi keterlambatan ujian jika listrik pada. ‘’Pembiayaannya bisa diambilkan dari dana BOS (bantuan operasional sekolah),’’ pungkas Daryono. (gen/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
close
PENGUMUMAN
Close