Umat Buddha Tebar Pesan Damai dari Bukit Cumbri

34

Kaki Bukit Cumbri menjadi saksi toleransi penduduk Dusun Sodong, Desa Gelang Kulon, Kecamatan Sampung. Dua anutan kepercayaan 482 penduduk di dusun itu. 143 memeluk Buddha dan 339 memeluk Islam. Kukuh persatuan diwujudkan dengan harmonisasi perayaan Waisak yang bertepatan bulan puasa, Minggu (19/5).

———————

NUR WACHID, Ponorogo

KAKI Bukit Cumbri menapaki dua provinsi. Sisi baratnya masuk Jawa Tengah dan sisi timur masuk Ponorogo. Tempat Vihara Dharma Dwipa berdiri di Sondong, Gelang Kulon, Sampung. Pun, satu-satunya tempat peribadatan umat Buddha di Bumi Reyog.

Di kampung itu, ratusan penduduk beda kepercayaan hidup rukun. Embel-embel agama dikebelakangkan dalam setiap aktivitas sosial. Membaur menjadi satu dalam satu kesatuan masyarakat. ‘’Setiap kegiatan sosial, agama kita taruh di KTP saja. Artinya kami belakangkan urusan agama. Kami membaur menjadi satu,’’ tukas Suwandi Cittapanno, Ketua Vihara Dharma Dwipa sekaligus penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta. Kutipan doa yang tampak saat memasuki Vihara Dharma Dwipa itu artinya semoga semua makhluk hidup bahagia. Doa itu pula yang dibacakan dalam ritual detik-detik Waisak 2563 BE tahun 2019 yang jatuh tepat pukul 04.11, Minggu (19/5). Mulai perenungan, pembacaan pesan-pesan Waisak hingga meditasi selama satu jam. Berlanjut sungkeman kepada sesepuh dan orang tua. Ritual dipungkasi pelepasan satwa. Tahun ini satwa yang dilepaskan ikan lele dan nila. ‘’Pelepasan satwa bermakna cinta kasih tanpa membebeda-bedakan makhluk hidup sesuai dengan intisari ajaran Buddha,’’ lanjutnya.

Pesan yang disampaikan dalam ritual Waisak tahun ini adalah mencintai kehidupan berbudaya penjaga persatuan, semoga semua makhluk berbahagia. Berkaca dari pesan mulia itu, umat Buddha pun menunda anjangsana yang biasanya dilakukan seusai upacara. Silaturahmi ke warga lain ditunda sampai Idul Fitri guna menghormati umat muslim tetangganya. ‘’Biar barengan dan rukun,’’ tegasnya.

Kerukunan itu telah terjaga sejak agama Buddha masuk ke Dusun Sodong, 1815 silam. Ajaran mulia itu dibawa Josumito yang saat ini dipercaya sebagai sesepuh oleh umat Buddha setempat. Ajaran Josumito datang dari daerah Rawa Pening, Jogjakarta. Menyiarkan intisari ajaran dari kitab tripitaka. Pembangunan vihara awal era 1969-an dilakukan swadaya. Hingga kini setiap ada perayaan hari besar masing-masing agama, seluruh warga saling gotong royong. Termasuk jelang persiapan ritual detik-detik Waisak, warga muslim juga turut membantu persiapannya. ‘’Seperti inilah kedamaian. Kami rajin komunikasi dengan tokoh lintas agama. Tujuannya untuk menjaga kerukunan antarumat,’’ sambungnya.

Dalam sembahyang, umat Buddha bukanlah menyembah patung. Melainkan simbol atau media untuk pemusatan pikiran dan perenungan. Bahkan, umat Buddha setempat juga mengidolakan sosok Gus Dur. Sebagai ulama besar yang tidak mementingkan kelompoknya saja. Terbukti, di era pemerintahannya, semua kelompok masyarakat diberikan hak sama. Sehingga, minoritas diberi jaminan keamanan dalam merayakan hari-hari besarnya. ’’Kita menganggap Gus Dur merupakan tokoh besar yang berjasa, terutama bagi kami yang minoritas,’’ tuturnya. ***(fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here