Ulat Jati Serbu Desa Baleasri, Apa Penyebabnya?

92

MAGETAN – Akibat populasi burung semakin berkurang, ulat jati menyerang. Kondisi itu dirasakan betul warga Desa Baleasri, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. Ulat jati awalnya bertebaran di daun jati yang baru saja bersemi pascakemarau panjang. Awalnya memakan daun–daun jati yang tumbuh hijau karena guyuran hujan. ’’Sekarang tidak hanya memakan daun jati, tapi sudah mulai merambat ke dinding rumah,’’ kata Surati, warga sekitar.

Sebenarnya warga setempat sudah tidak asing lagi dengan serangan ulat jati. Karena setiap awal musim penghujan, ulat-ulat jati menyerbu kediaman warga setempat. Kedatangan ulat berbulu ini berasal dari hutan jati emas yang letaknya tidak begitu jauh dari permukiman warga. Setiap musim hujan, ulat jati ini secara berkoloni mendatangi rumah warga yang berada tidak jauh dari perkebunan jati emas itu. ’’Tapi, tahun ini jumlahnya terlihat sangat banyak dibandingkan tahun lalu,” tambah Hari Susanto, warga setempat.

Meski tidak berbahaya, kehadiran ulat itu mengganggu kenyamanan warga.  Warga yang merasa jijik dengan binatang berbulu itu langsung coba untuk membunuhnya dengan alat seadaanya. Jika serbuan ulat itu tetap berlangsung, warga bakal melapor ke kantor desa untuk diteruskan kepada pemkab supaya mendapat penanganan. ’’Setiap tahun harus diserbu ulat terus,’’ ungkapnya.

Kepala Resort Madiun-Ngawi-Magetan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup Suparni mengatakan, ada penurunan populasi satwa hewan di lingkungan hutan Magetan. Penangkapan liar oleh warga sekitar yang kurang pengetahuan terkait satwa dilindungi menjadi salah satu pemicu. Ulat yang sejatinya menjadi makanan burung akhirnya bisa semakin merajalela. Sebab, rantai makanan itu terputus dengan menurunnya populasi burung. ’’Fenomena ini akan kami tindak lanjuti. Akan kami lakukan pengkajian dulu,’’ jelasnya.

Penanganannya tidak sembarangan. Pembasmian dengan penyemprotan menggunakan bahan kimia justru akan menimbulkan efek lain. Salah satunya, tumbuhan di sekitar pohon jati dikhawatirkan akan mati. Sesuai PP 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, ada beberapa jenis tumbuhan dan satwa yang harus dilindungi dari bahaya kepunahan.

Kemurnian genetik dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa harus dijaga. Juga memelihara keseimbangan kemantapan ekosistem yang ada. ’’Penangkapan liar satwa yang dilindungi ini harus ditindaklanjuti. Apalagi dilakukan orang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadi,’’ ujar Suparni. (mgc/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here