Turunnya Pajak dan Investasi Tinggal Menghitung Hari

39

MADIUN – Ekspansi PT Inka ke Banyuwangi mengancam kepentingan pembangunan jangka panjang Kota Madiun. Para investor diprediksi bakal berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya ke Kota Karismatik. Tersebab salah satu medan magnet untuk menarik hati para pemoda telah menghilang. ’’Nilai investasi Kota Madiun bisa turun,’’ kata akademisi Muhammad Imron ditemui Selasa, 30 April lalu.

Imron tidak ragu menyebut salah satu penyebab bermunculannya hotel-hotel berbintang dalam kurun 10 tahun terakhir karena keberadaan Inka. Citra pabrik sepur yang berdiri 1981 silam itu terlanjur lekat dengan Kota Madiun. Selain bagian tonggak penting berkembangnya transportasi kereta di Indonesia. Juga dampaknya mampu menyedot ribuan tenaga kerja. Karenanya, kota ini di-branding Kota Gadis dengan akronim perdagangan, pendidikan, dan industri. ’’Karena saya melihat pengembangan totalitas ke Banyuwangi. Fokus ekspor itu tandanya perusahaan ingin membuat tempat produksi kereta terbesar,’’ papar dosen Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka Madiun tersebut.

Selain investasi, Imron memerinci imbas lain pada sektor ekonomi makro adalah rendahnya perputaran uang, suku bunga, dan produk domestik regional bruto (PDRB). Persoalan tersebut menjadi tantangan Wali Kota Madiun Maidi untuk segera mengantisipasi. Setidaknya ada waktu dalam tujuh hingga delapan tahun sebelum kota ini kehilangan pamor. Mengapa tenggatnya lebih dari lima tahun? ‘’Ada kaitannya dengan sejauh mana perkembangan Inka di Kota Madiun,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Kota Madiun masih bisa tetap eksis dengan catatan ada peningkatan intens pada Inka. Kapasitas produksi pembuatan kereta di Pulau Jawa dan komponen terus meningkat. Atau perusahaan induk melakukan diversifikasi produk usaha. Misalnya, dikembangkan untuk otomotif atau jenis lainnya. Dua hal tersebut masih memungkinkan terjadi. Bisa jadi kota-kota besar mengikuti langkah Jakarta dengan mass rapid transit (MRT) atau lintas rel terpadu (LRT) Palembang. ’’Inka kan ada kerjasama dengan perusahaan kereta besar dari Swiss. Bisa saja nanti terjadi penyaluran ilmu atau inovasi-inovasi,’’ paparnya.

Akademisi jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta ini juga memprediksi ada dampak terhadap para pelaku usaha jasa dan dagang di wilayah sekitar pabrik Inka. Penghasilannya turun sekitar 30 persen. Imbas pemindahan tugas 2.500 karyawan ke Banyuwangi kelak. Kondisi tersebut otomatis memengaruhi pendapatan asli daerah (PAD). Rumah kos, misalnya, ketika para penghuni yang merupakan karyawan ambil bagian dipindah. Pajak yang biasanya ditarik penuh pemkot merosot. ’’Masalah ekonomi mikro tidak bisa disepelekan,’’ kata Imron

Terlepas ancaman tersebut, warga Jalan Diponegoro ini meyakini Inka telah merancang strategi pengembangan. Demi menutup lubang atas peralihan para pekerja. Juga konseptual rencana akibat pesatnya perkembangan perusahaan. Inka dipandang punya komitmen membantu Kota Madiun terus tumbuh. ’’Yang membuat lega adalah Kota Madiun masih dijadikan kantor utama. Itu sedikit mengerem datangnya ancaman pembangunan,’’ tandasnya. (*/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here