Tuntun Anak Nonton Kartun

51

RadarMadiun.co.id – Film kartun ada positif dan negatifnya. Di balik tayangannya yang menghibur, sejumlah kartun berdurasi 30 menit di layar kaca dipandang mengandung unsur yang tidak baik. Apalagi untuk anak-anak. Sekiranya persoalan itu menjadi salah satu latar belakang kartun yang di periode 1980-an hingga awal milenium, kini tidak lagi diputar sejumlah TV swasta. ‘’Teman-teman psikolog memang memberi kritikan terhadap beberapa tayangan kartun lama,’’ kata psikolog David Ary Wicaksono.

Kritikan yang dimaksud dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Madiun itu adalah adegan kekerasan dalam pertarungan. Kontennya dinilai memengaruhi pola pikir anak-anak. Usia labil membuat apa yang dilihat ditelan mentah-mentah. Misalnya, ketika ada karakter kartun jatuh dari ketinggian lantai lima yang pada akhirnya masih hidup. Atau kisah Tom dan Jerry yang digambarkan selalu berkelahi. ‘’Memang kocak dan menghibur. Tapi, bagaimana kalau ada seorang anak menirukannya?’’ ujarnya.

Selain unsur kekerasan, ada beberapa kartun jadul yang menampilkan karakter perempuan berpakaian seksi. Belum pantas dilihat anak-anak di bawah umur. ‘’Banyak kan anime-anime Jepang itu,’’ ucap David.

Persoalan tersebut yang membuat David menduga lenyapnya penayangan kartun di TV. Kartun Dragon Ball pernah mengalaminya November 2015. Setelah sempat diputar kembali dalam beberapa episode di salah satu TV swasta, kisah petualangan Son-Goku mengumpulkan bola naga itu mendadak tidak lagi ditayangkan. Belakangan, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan teguran di saat episodenya hampir habis. ‘’Karena ada pengawasan ketat dari lembaga terkait,’’ ujarnya.

Selain kelayakan ditonton anak-anak, lanjut dia, ada kemungkinan TV swasta memandang penayangan film kartun legendaris sudah tidak lagi menarik. Mereka memiliki tim yang melakukan survei terhadap rating tayangan. Di sisi lain, sudah ada perubahan generasi. Anak-anak era sekarang lebih tertarik dengan gadget ketimbang menonton TV. ‘’Revolusi industri 4.0 membuat seolah-olah semua bisa diperoleh dalam genggaman. Termasuk nonton kartun,’’ paparnya.

Tidak semuanya buruk, David menilai kartun bisa mengasah pemikiran, kreativitas, dan daya imajinasinya anak-anak. Nah, dia melihat kartun dengan tayangan edukasi yang lebih ditonjolkan TV swasta. Meski intensitasnya tidak setinggi era 90-an. ‘’Misalnya, Dora The Explorer dan Curious George adalah contoh kartun yang mendidik,’’ ujar David.

Sejatinya, film kartun lawas juga masih sering nongol di TV. Namun, KPI telah membentenginya lewat kode penggolongan siaran. Seperti BO (bimbingan orang tua), 13+ (ditonton usia 13 tahun ke atas), atau DW (dewasa). ‘’Yang terpenting orang tua jangan lelah untuk cerewet memandu dan mengawasi anak saat menonton kartun,’’ tuturnya. (cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here