Bupati Menulis

Tujuh Bulan Covid-19

KITA masih ingat, tepatnya pada 11 Maret 2020, di Magetan pertama ada korban meninggal dunia warga yang terkonfirmasi covid-19. Dengan demikian, kalau dihitung sudah hampir tujuh bulan di Kabupaten Magetan peristiwa tersebut dimulai. Dan tentunya kita semua akhirnya fokus dan sangat sibuk mengani pandemi ini. Sebenarnya almarhum telah lama menjadi warga Solo namun almarhum asli kelahiran Magetan. Sehingga ketika meninggal dunia, keluarga meminta dimakamkan di tanah kelahirannya. Karena terkonfirmasi Covid-19 sesuai standar dilakukan tracing kepada  keluarga dekatnya, dan yang pernah kontak sangat erat. Hasilnya  beberapa keluarga inti tertular virus ini.

Sebuah cobaan yang sangat luar biasa bagi Kabupaten Magetan tentunya. Tidak hanya Magetan, tentu masyarakat Jawa Timur, juga Indonesia bahkan seluruh masyarakat dunia diuji dengan adanya pandemi ini. Semua kelabakan, itu pasti. Namun namanya masalah tidak boleh dihindari dan harus dihadapi Sehingga seluruh potensi baik tenaga, sumber dana semua dikerahkan untuk penanganan covid-19.

Tujuh bulan tanpa henti dalam menangani pandemi ini. Tentu potensi menghadapi kelelahan, kejenuhan pasti muncul. Tidak hanya aparat, juga masyarakat. Namun semua anggota satgas penanganan covid-19 tidak pernah berhenti. Terus bergerak dengan dengan tetap berpegang pada protokol kesehatan. Yang juga tidak kalah pentingnya, walau masa pandemi pelayanan masyarakat tidak boleh terhenti.

Karena suka tidak suka, ekonomi di tengah pandemi ini tidak boleh berhenti secara total, perlu kepekaan khusus. Istilah Pak Jokowi kita harus pandai, kapan harus ngegas dan kapan harus ngerem. Karena sampai saat ini belum ada obat maupun vaksin yang ditemukan untuk mengobati maupun mencegah covid-19 yang semakin meraja-lela ini.

Upaya terus dilakukan di seluruh negeri ini. Namun dari hari ke hari kasus terkonfirmasi terus bertambah. Termasuk di Kabupaten Magetan. Perkembangan yang terkonfirmasi naik terus terjadi. Sampai dengan tanggal 3 Oktober 2020 jumlah yang positif terkena atau positip covid-19 berjumlah 405 orang. Dan yang meninggal jumlahnya sudah 23 orang. Sedang yang sembuh berjumlah 295 orang. Di seluruh Jawa Timur, dari 38 Kabupaten/Kota Kabupaten Magetan pada posisi 28. Paling banyak tentu Kota Surabaya.

Semakin bertambahnya warga yang positip terkonfirmasi, bukan berarti kita tanpa usaha terus menerus. Namun banyak faktor yang sangat mempengaruhi. Virus ini penularannya sangat dekat dengan mobilitas manusia. Terbukti dimana-mana, bahwa kecepatan mobilitas manusia juga seiring dengan kecepatan penyebaran virus ini. Seperti yang awal tertular masyarakat Magetan karena bepergian ke luar kota. Dari situ kemudian tertular. Setelah dilakukan isolasi secara terbatas, bisa dikendalikan.

Namun kemudian yang terjadi, transmisi impor terus terjadi. Baik warga Magetan yang bekerja di luar Magetan, seperti dari Jakarta, Surabaya, dll setelah positip kemudian pulang. Tentu kontak erat dengan keluarga menjadikan anggota keluarga kemudian dengan mudah tertular. Apalagi konsep keluarga kita bukan konsep “nuclear family.”

Dalam konsep nuclear family, yang namanya keluarga itu terdiri ibu, bapak dan anak. Sehingga konsep keluarga menjadi sangat kecil. Berbeda dengan konsep kita, yang namanya keluarga bukan bukan nuclear family tapi extended family. Dengan konsep extended family yang namanya keluarga demikian luas. Tidak hanya ibu, bapak, anak, tapi juga kakek, nenek dan seterusnya. Baik terus turunan ke atas maupun ke samping. Bahkan tetangga dekat sudah dianggap keluarga. Apa yang terjadi, di Indonesia setiap salah satu keluarga mempunyai acara, baik perkawinan, kelahiran, kematian dan acara lainnya selalu dipenuhi dengan anggota keluarga. Kalau pun tidak diundang pasti datang. Dalam masa pandemi, extended family ini membawa dampak penularan yang nyata.

Akhirnya saat ini di Magetan kasus positip sudah masuk pada kluster transmisi lokal. Sampai dengan saat ini 83,12% kasus konfirmasi Covid-19 karena transmisi lokal. Sedang dari transmisi impor sebanyak 16,88%. Kondisi ini saya kira tidak hanya terjadi di Kabupaten Magetan. Akan tetapi juga terjadi di Kabupten/Kota yang lain.

Sedang kita tahu bahwa, kerumunan adalah wahana yang sangat baik dan cepat dalam penularan virus covid-19. Apalagi dalam kerumunan ada atau bahkan banyak yang tidak menerapkan protokol kesehatan. Tentu ini akan sangat mudah menularkan bila ada satu orang saja yang OTG. Betapa mudahnya penularan virus ini.

Selain itu cepatnya penyebaran, delay waktu hasil Swab pernah memakan waktu lebih dari tujuh hari. Ketika pemeriksaan di rumah sakit terdekat tidak mampu lagi, dan harus dikirim ke berbagai tempat diantaranya Surabaya. Sehingga delay waktu antara waktu Swab dengan hasilnya begitu lama. Yang terjadi adalah yang belum dinyatakan positip bisa mobilitas kemana-mana. Walau yang dinyatakan reaktif telah diminta untuk isolasi mandiri akan tetapi sulit rasanya memantau kedisiplinannya. Saya seringkali mendapat informasi dari masyarakat beberapa orang diam-diam melakukan mobilitas keluar. Ini salah satu yang ditakutkan. Sehingga ketika hasilnya terkonfirmasi Covid-19 tentu sudah interaksi dengan banyak orang.

Oleh sebab itulah, setelah berjalan sekian lama dan pemerintah memutuskan untuk menerapkan tata kehidupan baru dengan covid-19 maka mulai langkah sosialisasi, persuasi untuk menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari makin digalakkan. Dengan operasi-operasi rutin. Pemakaian masker, jaga jarak dan cuci tangan terus digalakkan. Dan setelah sosialisasi dan persuasi terus dijalankan mulai, dilakukan penegakan hukum. Bahkan operasi yustisi kemudian digelar.

Penegakan hukum atau operasi yustisi di Kabupaten Magetan baru dilakukan dua minggu lamanya, sudah 685 kegiatan operasi yang telah digelar. Penertiban telah dilakukan kepada sebanyak 11.655 orang. Sasaran yang telah menjadi obyek penertiban 1.143 titik. Sangsi yang diterapkan, ada berbagai bentuk. Seperti teguran kepada pelanggar protokol kesehatan, terdiri teguran lisan 3.765 dan teguran tertulis 1.583. Dan kerja sosial di fasilitas umum 41 orang. Serta denda terhadap 209 orang, dengan nilai Rp 3.735.000,00.

Walaupun sejak covid-19 masuk di Magetan telah dilakukan berbagai upaya, namun penambahan kasus terus bertambah. Ada beberapa sebab terus bertambahnya kasus positip, selain delay hasil Swab dan ketidak patuhan ketika menunggu hasil Swab. Jumlah individu yang di-test melalui Swab masih sangat rendah dari standar. Penyebabnya karena kita belum memiliki  laboratorium yang mampu memeriksa. Sehingga hasil Swab harus dikirim keluar Magetan. Dan saya yakin tidak hanya Kabupaten Magetan, tapi juga sebagian besar daerah di Indonesia belum memiliki mesin PCR.

Mesin PCR atau Polymerase Chain Reaction merupakan alat untuk pemeriksaan laboratorium guna mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini, PCR digunakan dan santa diperlukan juga untuk mendiagnosis Covid-19. Dan tentu ada standar khusus dan memerlukan waktu bila membangun laboratorium yang dapat digunakan untu mesin PCR ini. Kecuali yang sebelumnya memang sudah memiliki alat PCR ini, dan sebelumnya digunakan pemerikasaan virus lainnya.

Oleh sebab itu, mengingat pentingnya mesin PCR ini maka Kabupaten Magetan berusaha mendapatkannya. Di RSUD Dr. Sayidiman, saat ini dalam proses dibangun laboratoriumnya. Dan alat-alatnya juga sudah mulai didatangkan. Sehingga nantinya pasien yang dirawat di RSUD segera diketahui terkonfirmasi Covid-19 atau tidak. Karena hasil Swab sudah dapat diketahui sejam kemudian.

Demikian juga “Mobile PCR” sedang kita usahakan untuk pengadaan. Agar bisa memeriksa secara cepat dengan cara mobile. Dengan usaha-usaha ini, delay waktu yang selama ini dialami dalam menunggu hasil Swab, diharapkan segera dipotong. Sehingga yang terkonfirmasi Covid-19, segera dilakukan tindakan baik isolasi di fasilitas khusus yang disediakan pemerintah, maupun isolasi mandiri bila tempatnya dipandang memenuhi syarat oleh Satgas Covid-19.

Selain masalah tersebut, penyebaran virus ini cepat juga karena disiplin penerapan protokol kesehatan belum maksimal. Malahan paling banyak jumlah yang melanggar sesuai survei BPS 2020 adalah kaum melineal. Pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan bentuknya bisa tidak memakai masker, tidak sering menggunakan hand sanitizer, tidak mencuci tangan 20 detik dengan sabun, tidak menghindari jabat tangan, tidak menghindari kerumunan dan tidak menjaga jarak satu meter. Bisa kita bayangkan akibat penularannya, karena anak melineal paling banyak adalah OTG. Tentu orang tua dan kita semua bisa lebih berperan untuk ikut mengingatkannya.

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close