AdvertorialPacitan

Tugu PPN, Penanda Penyelenggaraan Pemerintahan Pacitan yang Baik

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Lima tahun lalu Pemkab Pacitan diganjar Parasamya Purnakarya Nugraha (PPN). Penghargaan bergengsi itu kini diabadikan dalam bentuk tugu. Tak hanya namanya, bentuk tugu di simpang empat Penceng itu sama persis dengan trofi aslinya. ‘’Sebagai penanda untuk penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik lagi,’’ kata Bupati Pacitan Indartato Minggu (15/12).

PPN merupakan tanda kehormatan tertinggi pelaksanaan pembangunan daerah dari pemerintah pusat. Pacitan mendapatkannya pada 2014 silam. Itu setelah hat-trick pada 2009, 2010, dan 2011, mengantongi hasil evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah (EKPPD) terhadap laporan penyelenggaraan pemerintah daerah (LPPD) terbaik. ‘’Penilaian Parasamya Purnakarya Nugraha meliputi urusan wajib pemerintah hingga skala prioritas pembangunan, serta pengaruhnya terhadap kesejahteraan rakyat,’’ ungkap Pak In, sapaan Indartato.

Menurut Pak In, pembangunan Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha di perempatan Penceng itu bermakna istimewa. Dia berharap tugu tersebut jadi pengingat bagi seluruh komponen pemerintah maupun masyarakat Pacitan. Sebuah tanda untuk terus meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik. ‘’Bentuk tugu sudah bagus. Ke depan, secara bertahap juga akan ada konsep untuk memperindah kawasan di sekitarnya,’’ bebernya.

Tugu yang menggantikan papan reklame jumbo itu rampung dikerjakan sepekan lalu (9/12). Pengerjaannya dimulai Jumat (27/9). Pembangunan TPPN tidak asal-asalan. Berbagai pertimbangan dilakukan jauh hari sebelumnya. ‘’Ada kajian yang harus benar-benar matang,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pacitan Edy Junan Ahmadi.

Mengingat prestisiusnya PPN, tetenger dan keindahan merupakan poin yang tidak bisa ditawar. Namun, pembangunan tugu senilai Rp 478 juta itu juga sarat perhitungan. Seperti, menjaga kondusivitas arus lalu lintas selama proses pembangunan. Pun, kajian terdahulu dengan melibatkan budayawan, tokoh masyarakat, DPRD, dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. ‘’Semua sudah menyepakatinya,’’ tutur Junan.

Tugu setinggi sembilan meter itu memiliki beberapa undakan berbentuk persegi. Undakan paling atas 1,25 meter. Mahkota putih selebar tiga meter. Sementara area tugu lebarnya empat meter. Semua dibuat persis trofi aslinya. Lambang Garuda Pancasila dan bintang kehormatan serta keterangan, berada di salah satu sisi tugu.

Sisi itu menghadap Jalan Ahmad Yani (arah barat). Pertimbangannya, berstatus jalan kabupaten. ‘’Ada sedikit perbedaan sebenarnya. Corak kuning emas di penghargaan asli, di tugu diganti batu marmer. Selain agar lebih elegan dan eksklusif, mempertimbangkan pemeliharaan juga,’’ terang Junan. (den/c1/sat/adv)

Disebut Penceng karena Perempatannya Menceng

NAMA simpang empat Penceng begitu ikonik di Pacitan. Sejatinya, secara administratif tidak ada jalan, dusun, lingkungan, atau kelurahan bernama Penceng. Lantas, mengapa muncul nama tersebut? ‘’Ada sejarahnya itu. Karena bentuk perempatannya yang menceng,’’ kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Pacitan Wasy Prajitno Minggu (15/12).

Simpang empat di Kelurahan/Kecamatan Pacitan itu memang tidak presisi. Persilangannya tidak membentuk empat sudut siku-siku alias 90 derajat. Pun posisi masing-masing arah dalam satu ruas jalan tidak lurus berhadap-hadapan. Sehingga, masyarakat menamakan perempatan Penceng. ‘’Tidak diketahui siapa yang pertama kali menyebutnya. Yang jelas, sebutan itu berkembang di masyarakat hingga sekarang,’’ ujar Wasy.

Bertalian dengan ditancapkannya Tugu Parasamya Purnakarya Nugraha (TPPN) di perempatan tersebut, sudah saatnya sebutannya berubah. Pertimbangannya, nilai yang terkandung di tugu tersebut. Yakni, penanda keberhasilan Pemkab Pacitan. ‘’Bisa menyesuaikan nama tugu atau apa. Tentunya tidak memicu gejolak di masyarakat,’’ tutur Wasy. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
close