Tugu Pancasila vs Tugu Perguruan

32

(Merdeka!!!!)

KETIKA era reformasi lahir, seolah semua hal yang berhubungan dengan program Orde Baru semua jelek. Karena dianggap semua program datangnya dari atas. Semua instruktif. Rakyat tinggal melaksanakan. Tidak ada tempat inisiatif. Sehingga keterlibatan masyarakat sangatlah rendah.

Kita masih ingat bagaimana dulu berbagai program sempat demikian merasuk di ingatan seluruh masyarakat. Ada program Keluarga Berencana (KB). Dengan slogan “Dua Anak Cukup”,  laki-lai perempuan sama saja. Rasanya dulu kalau mempunyai anak lebih dari satu kok tidak enak sendiri. Baik dengan aparat pemerintah maupun masyarakat. Malahan yang punya anak diberikan berbagai kemudahan. Misalnya kalau anaknya lebih dari dua rasanya tidak pantas kalau jadi pejabat. Apalagi pejabat di lingkungan Badan Koordinasi Keluarga Berencana dan sekarang menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana nasional (BKKBN).

Apalagi program ini menjadi perhatian yang demikian besar dari pemerintah. Sampai kantornya ada di setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Di setiap kecamatan ada petugas KB. Gerakan ini sangat massif. Karena keberhasilan program KB ini sampai-sampai kita menjadi tempat belajar bagi-bagi negera-negara di dunia dalam mengendalikan pendudukan dan konsep keluarga berencana.

“Dua anak cukup,” laki-laki perempuan sama saja dipahat disetiap tembok pagar hampir di setiap rumah penduduk. Dengan simbol dua jari tangan yang sangat fenomenal itu. Apalagi di desa yang masyarakatnya demikian taat kepada pemerintah. Hampir semuanya penuh dengan simbol-simbol program pemerintah. Baik program pemerintah pusat, provinsi maupun daerah. Semua masyarakat ingin menunjukkan desa atau wilayahnya sangat mendukung program pemerintah tersebut.

Jangan heran kemudian di tembok, di setiap jalan atau tempat strategi berdiri tugu-tugu KB tersebut. Demikian juga, seperti program kabupaten Magetan dulu juga tidak mau kalah. Tidak hanya di dinding pagar. Tapi juga di tembok rumah, malahan di atas genting rumah depan tertulis besar MITRA kepanjangannya Magetan Indah, Tertib, Rapi dan Aman.

Namun semua itu kelihatannya hanya seperti sebuah kejayaan jargon program masa lalu. Yang saat tinggal sisa-sisanya saja. Kalau pun ada sisanya seperti prasasti, sebuah penanda bahwa dulu ada sebuah peristiwa atau program seperti KB dan program lainnya tersebut. Namanya sisa, banyak sekali penanda program pemerintah seperti yang dulu ada di mana-mana banyak yang dirubuhkan. Kalau ada sudah tidak dirawat lagi.

Selain program KB, di masa Orde Baru ada juga program yang sangat terkenal dan fenomenal adalah program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau P4. Sering disebut Eka Prasetya Panca Karsa yang merupakan penjabaran dari kelima sila dari Pancasila. Yang kemudian ada 36 butir Pancasila sebagai pedoman praktisnya.

Panduan pelaksanaan P4 dibentuk sebagai tindak lanjut TAP MPR No: II/MPR/1978 tentang Eka Prasetya Panca Karsa. Dalam pelaksanaan untuk memahami dan mengamalkan P4 dilakukan penataran-penataran. Baik penataran di tingkat kedinasan maupun di masyarakat. Melalui penataran ini, diyakini sebagai salah satu cara terbaik untuk membuat masyarakat mengetahui, menyadari, memahami, dan kemudian mengamalkan idiologi Pancasila.

Pola penataran pada prinsipnya ada dua pola pokok yaitu pola calon penatar dan pola calon pendukung. Betapa bangganya kalau setelah ikut pola pendukung kemudian mengikuti penataran P4 pola calon penatar. Yang kemudian menjadi penatar P4 diberbagai tempat. Kemudian penataran pola pendukung ini. Pola pendukung ini pun dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pola pendukung 45 jam, 25 jam dan 17 jam. Khusus pola pendukung 17 jam ini adalah untuk anggota organisasi atau masyarakat biasa.

Demikian juga untuk PNS. Malahan di dalam lingkungan pegawai negeri penataran P4 saja ada tipe-tipenya. Tipe A untuk PNS golongan IV dan III. Tipe B untuk PNS golongan II dan tipe C untuk PNS golongan I.

Program ini demikian masifnya. Sampai-sampai kepengurusan surat tertentu bagi masyarakat ada yang mensyaratkan harus sudah mengikuti penataran. Masyarakat akan berusaha mengikuti penataran ini. Pada masa ini, betul-batul tiada hari tampa penataran. Apalagi ditunjang di dalam kelembagaan struktural. Mulai di pusat namanya BP7. Dan juga lembaga yang sama ada di setiap Provinsi dan Kabupaten/Kota. Berbagai program selain penataran, untuk lebih memasyarakatkan P4 dengan lomba misal simulasi P4, cerdas cermat, drama dengan tema P4 dan berbagai lomba lainnya.

Malahan ada program atau lomba desa Pancasila. Kalau sebuah desa belum masuk kategori desa Pancasila tidak mau ketinggalan hampir setiap desa berlomba-lomba membuat semacam tugu dimana-mana. Atau bentuk lambing apapun yang benuansakan Pancasila. Ada yang bentuknya tugu menjulang. Ada yang bentuknya melambangkan burung garuda dll. Banyak sekali macamnya. Dan semuanya di letakkan ditempat-tempat yang sangat strategis. Ada semacam kesadaran, tidak elok rasanya kalau idiologi bangsa ditempatkan pada tempat yang kurang terhormat.

Sangat disayangkan, bahwa dengan reformasi TAP MPR No: II/MPR/1978 tersebut telah dicabut dengan TAP MPR XVIII/MPR/1998. Seolah semua produk Orde Baru itu salah semua. Kalau model P4 dianggap indoktrinasi, apakah tidak perlu diperbaiki caranya dan atau modelnya. Sehingga, ketika kesadaran muncul kembali perlunya pemasyaratan idiologi bangsa yang sekarang dirasa mulai luntur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi kesulitan. Pembentukan Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP) yang dibentuk tahun 2017, sampai dengan saat ini masih belum nampak kiprahnya. Yang muncul justru ramai ketika diberitakan Ketua BPIP Dr Yudi Latif mundur dari jabatan tersebut.

Sampai-sampai di daerah Pawitandirogo dan sekitarnya, sejak era reformasi tugu, atau lambang-lambang Pancasila yang dulu marak di setiap desa baik itu dipertigaan, ditengah perempatan semua seakan hilang begitu saja. Tidak ada yang protes, mempertahankannya apalagi mempedulikannya. Semua sekarang malahan kalah dengan tugu-tugu berbagai perguruan. Seolah ada sebuah idiologi baru yang lebih penting ditonjolkan dibandingkan idiologi negara Pancasila.

Kalau seandainya tugu Pancasila dirobohkan, dicoret-coret atau dibuat apapun, siapa sekarang yang akan peduli. Betul, seakan sudah tidak ada yang peduli. Namun sebaliknya. Coba siapa yang berani mencoret tugu perguruan yang ada saat ini. Apalagi kemudian merubuhkannya. Pasti akan dicari sampai dengan ketemu. Seolah tugu perguruan lebih penting dari tugu sebagai simbol idiologi negara.

Saya kemudian menjadi ingat percakapan dua presiden dari dua negara yang hidup pada masanya. Sebuah percakapan antara Yosip Broz Tito Presiden Yogoslavia dengan Presiden Sukarno yang memang berkawan. Ketika keduanya bertemu disuatu kesempatan, Bung Karno bertanya, ”Tuan, kalau anda meninggal nanti, bagaimana nasib bangsa anda?” Kemudian dengan tanpa ragu-ragu dan percaya diri Tito menjawab,” Saya mempunyai tentara yang sangat kuat dan angkatan perang yang hebat untuk melindungi bangsa kami.”

Kemudian ganti Tito bertanya kepada Sukarno,” Lalu bagaimana dengan negaramu sahabatku. Bagaimana kalau kelak anda meninggal?” Dengan tenang Bung Karno menjawab,”Aku sungguh tidak pernah khawatir. Aku telah meinggalkan kepada bangsaku ‘way of life’ yaitu Pancasila. Idiologi itu lahir, ketika aku merenungkan dan jauh menggali ke dalam bumi pertiwi kami. Dan aku telah menemukan lima butir mutiara yang indah, yaitu lima sila Pancasila.” Demikian inti percakapan kedua presiden yang sangat fenomenal itu.

Secara teoritik, yang mestinya kemudian rentan terhadap perpecahan, tidak bisa disangkal lagi tentu Indonesia. Begitu luasnya wilayah. Begitu banyaknya pulau, suku, bahasa, adat istiadat. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Yugoslavia yang lebih kecil, terdiri hanya beberapa suku pada awal 1990-an berantakan. Saat ini telah terpecah belah menjadi banyak negara kecil. Tito ternyata salah. Dan Bung Karno yang benar.

Kebenaran Bung Karno, tentu benar sampai dengan saat ini. Namun harapan kita tentu untuk selamanya. Sayangnya nampak mulai tergerusnya nilai dan penghayatan idiologi bangsa ini. Salah satu bukti, seperti simbol tugu Pancasila saja seakan kita semua tidak peduli lagi bila dirubuhkan. Kalah dengan tugunya perguruan.

Untungnya kita masih diikat dengan emosi yang sama ketika menjelang perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dan beberapa hari lagi kita akan merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-74. Setiap desa, RT, jalan, gang dihias dengan berbagai Pernik, lampu hias yang semarak. Semua seolah bersolek, ingin menunjukkan yang terbaik. Sekat-sekat perbedaan, yang beberapa waktu lalu sempat mencuat dengan tajam seolah sirna. Ternyata kita masih bangsa yang sama, Indonesia. Ternyata kita masih beridiologi yang sama yaitu Pancasila. Ini rumah bersama kita. Dan kita wajib semua merawat untuk selamanya. Merdeka!!!!. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here