Tugu Kartonyono Diklaim on Time

163

NGAWI – Proyek pembangunan Tugu Kartonyono Ngawi mendapat banyak sorotan. Mulai keterlambatan penyelesaian pekerjaan hingga meragukan hasilnya. Namun, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Ngawi cuek bebek. ‘’Semua (pelaksanaan) sudah sesuai rencana dalam DED (detail engineering design, Red),’’ kata Kasi Tata Ruang DPUPR Ngawi Teguh Suprayitna, Rabu (31/10).

Teguh mengakui banyak mendapat kritikan dari masyarakat. Terutama soal deadline pekerjaan. Proyek senilai Rp 3,1 miliar itu dianggap molor. Menurut Teguh, sesuai rencana, proyek yang digarap PT Asimuru Mitra Mulya Nganjuk itu ditargetkan rampung empat bulan. Mulai Juli dan berakhir Oktober 2018. ‘’Ini sudah finishing. Jadi, tidak ada keterlambatan, sudah on time,’’ ujarnya.

Kemarin sore (31/10) beberapa pekerja masih sibuk memasang salah satu gading emas. Sehari sebelumnya, mereka sudah memasang tujuh gading berwarna putih. Dengan terpasangnya gading emas di atas tujuh gading putih itu, artinya pekerjaan sudah selesai. Kendati beberapa perlu dirapikan dan dicat ulang. ‘’Yang penting sudah terpasang semua, soal kerapian tidak masalah,’’ tuturnya.

Teguh men-deadline semua pekerjaan selesai tadi malam. Sehingga, sorotan soal molornya pekerjaan terbantahkan. Sedangkan pandangan layak atau tidaknya tugu senilai Rp 3,1 miliar itu, Teguh tak mempersoalkan. Dia menegaskan pelaksanaan proyek termasuk material yang digunakan sudah sesuai perencanaan. ‘’Soal persepsi itu hak masyarakat,’’ kilahnya.

Lagi pula, lanjut dia, masyarakat juga terlibat dalam proyek itu. Dia mengingatkan kembali konsep bangunan tugu itu melalui polling yang dilakukan DPUPR sebelumnya. ‘’Masyarakat yang menilai dan memilihnya, kami yang mengerjakan. Semua sudah sesuai (perencanaan),’’ ketusnya.

Teguh menyebut masih ada enam bulan masa perbaikan. Dia juga menjawab keraguan terkait ketahanan mesin pemutar tugu itu. Diketahui, tugu yang digadang-gadang jadi ikon baru Ngawi itu dikonsep terus bergerak memutar agar dapat dilihat dari berbagai sisi. ‘’Setelah enam bulan, kami masih ada garansi mesin dua tahun dari rekanan. Setelah itu jadi tanggung jawab kami (DPUPR, Red),’’ jelasnya.

Teguh juga sempat menyinggung penambahan speed trap atau pita penggaduh yang dikeluhkan sebagian masyarakat. Dia menjelaskan, itu rekomendasi Balai Besar Jalan Nasional Provinsi Jawa Timur. Alasannya, ruas jalan tersebut idealnya dilalui kendaraan dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Setelah ada tugu baru, tinggal 30 kilometer per jam. ‘’Makanya dipasang pita penggaduh. Kalau ada yang bilang tidak nyaman ya memang tujuannya supaya lebih pelan,’’ paparnya. (tif/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here