Trombosit Anjlok, Rafi Tetap Ingin Sekolah

102

Wabah demam berdarah dengue (DBD) hampir merata menyerang seluruh kecamatan di Ponorogo. Dari total 21 kecamatan, 17 kecamatan dinyatakan endemis. Pun menyerang semua kalangan. Tua, muda, hingga anak-anak.

—————–

LORONG Ruang Delima RSUD dr Harjono Ponorogo dijejali pasien sejak awal tahun ini. Ruang khusus perawatan anak tersebut tidak sanggup menampung seluruh pasien. Kebanyakan dari mereka penderita DBD. Bahkan, sebagian pasien harus bersabar di ruang unit gawat darurat (UGD). Menunggu giliran menempati ruang rawat inap setelah pasien lain diizinkan pulang.

Rafi lemas di atas tempat tidur di lorong rumah sakit pelat merah itu. Jarum infus tertancap di tangan kirinya. Sementara di sampingnya tergeletak beberapa mainan. Boneka, mobil-mobilan, hingga smartphone. Raut wajahnya menahan sesuatu. Muram. Tak ada keceriaan. Di tengah orang berseliweran di lorong itu, dia harus bersabar menunggu giliran masuk kamar rawat inap. ‘’Pertama panas, pusing, dan mual,’’ kata bocah lima tahun asal Kelurahan Keniten, Ponorogo, itu.

Rafi bukan satu-satunya anak yang terserang nyamuk Aedes agypti yang kini jadi pembunuh nomor satu di Bumi Reyog. Sejak Rabu (30/1), dia dirawat di rumah sakit. Usai uji laboratorium menyatakan trombositnya di angka 50 ribu per milimeter kubik. Sangat rendah untuk penderita DBD. Sebab, di angka 80 ribu per milimeter kubik saja, banyak penderita sudah tidak kuat. Namun, Rafi ingin terus melawan virus dengue tersebut. ‘’Saya ingin sembuh, bisa sekolah lagi, dan bermain dengan teman-teman,’’ ujarnya.

Hasil pemeriksaan terakhir, trombosit Rafi anjlok di angka 30 ribu per milimeter kubik. Seolah tidak berpikir berapa trombosit di tubuhnya. Meski menahan sakit yang luar biasa. Baginya, ingin kembali belajar di sekolah merupakan impian sejak terbaring di rumah sakit. Pun saat ini dia masih terbayang empat teman sekolahnya yang juga bernasib sama. Dirawat di rumah sakit berbeda. ‘’Pengen ketemu mereka, apa juga ditusuk jarum seperti ini atau tidak. Kalau ada di sini, bisa bermain bersama,’’ ucapnya.

Sebelum masuk rumah sakit, Rafi sakit sejak Senin lalu (28/1). Dia mengeluh kepada ibunya yang langsung memeriksakannya ke dokter. Tidak ada perubahan meski telah diobati. Esoknya, diperiksakan lagi ke puskesmas. Pengobatan kedua hasilnya sama. Hingga keesokan harinya dibawa ke rumah sakit. ‘’Setelah diperiksa di sini (rumah sakit, Red), katanya kena demam berdarah,’’ tuturnya.

Hampir sepekan Rafi rawat inap. Meski sudah tidak betah, dia harus kuat agar sembuh. Sudarmanto, dokter spesialis anak RSUD dr Harjono, mengatakan anak-anak paling rentan terserang virus dengue. Sebab, daya tahan tubuhnya lebih rendah dibanding orang dewasa. Dia menambahkan nomal trombosit manusia 150 ribu—400 ribu per milimeter kubik. Jika di bawah 100 ribu per milimeter kubik bisa dipastikan mengarah ke DBD. ‘’Karena itu kami minta jangan sampai terlambat. Usahakan ketika anak sudah mengalami gejala segera kontak dokter,’’ imbaunya.*** (nur wachid/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here