Tri Murni Nekat Terobos Kobaran Api demi Selamatkan Anaknya

218

Naluri seorang ibu membuat Tri Murni nekat menerobos kobaran api yang mengepung kamar tempat Raka anaknya terlelap tidur. Dia pun tak henti bersyukur berhasil mengevakuasi buah hatinya meski si jago merah sempat menjilat beberapa bagian tubuh bocah itu.

——————

RAKA Ataya Susilo terbaring lemah di dipan pasien RSUD dr Soeroto Ngawi. Tubuhnya sarat luka bakar kemerah-merahan. Bentuk luka membulat di punggung telapak tangan sampai pangkal lengan kanan, pelipis kanan, hingga seluruh kening dan sisi samping kaki kanannya.

Pada tepi bulatan setiap titik luka tampak kerutan kulit tipis bekas terbakar. Selain itu, terlihat beberapa bulatan gosong akibat kena api terdapat di sejumlah bagian tubuh lainnya seperti bawah mata kiri bocah satu tahun ini.

Tiang infus berdiri di samping tempat Raka terlentang. Selang cairan medis tersebut menancap di pergelangan kaki kirinya. Mendengar rengekan menahan sakit, Tri Murni yang semula berbaring di samping Raka buru-buru memberikan air susu ibu (ASI).

Raka pun berhenti menangis. Sembari menyusui, mata sang ibu lekat mengamati lekuk demi lekuk tubuh buah hatinya itu. Sementara, seorang kerabat pelan-pelan mengibaskan kipas anyaman bambu dari samping tempat anak-ibu tersebut berbaring. ”Ndang mari yo le,” kata Tri Murni.

Raka baru saja mengalami kejadian mengerikan. Bocah yang genap satu tahun pada 30 Maret mendatang itu terlelap di sebuah kamar yang terbakar. Beruntung, Raka berhasil diselamatkan ibunya. Ya, dengan naluri seorang ibu, Tri Murni menerobos masuk ruangan yang telah dikepung api untuk menyelamatkan putranya. ”Awalnya tidak nangis anak saya ini,” ujar Tri Murni sambil tetap menyusui.

Tri Murni tidak tahu persis bagaimana api mulai menjalar. Perempuan 33 tahun itu sedang memasak di dapur. Namun, belum sampai irisan tempe masuk penggorengan, Sabtu pagi (16/3) itu seketika berubah mencekam.

Mata yang semula mengamati minyak yang mulai memanas berganti dihadapkan ke kobaran api dari dalam kamar tempat Raka terlelap. ”Dari dapur, saya mau ke depan. Tiba-tiba api sudah besar di pintu tempat Raka tidur,’’ kenang warga Dusun Jambe, Desa Ngale, Paron, itu.

Tri Murni bak disambar petir. Dia kalang kabut sesaat setelah melihat api menjilat-jilat di mulut pintu kamar tempat anaknya tidur. Saking besarnya api, perempuan itu tak berani melewati pintu yang sudah terbakar. Dia lantas kepikiran sekat papan tripleks di sisi lain kamar.

Dia begegas menuju bagian tripleks tersebut, berlarian dan tak henti berteriak minta tolong. “Suami ke sawah. Setelah Raka tidur, saya ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tidak ada 10 menit, Raka saya tinggal di dalam kamar,” jelas istri Joko Susilo ini.

Tri Murni dihadapkan sebidang tripleks penyekat ruangan yang belum terbakar. Dia mengumpulkan tenaga, lantas menjejak papan tripleks beberapa kali hingga terbuka. Hawa panas menyeruak seketika. Dalam kamar berapi, dia mendapati anaknya meringkuk berselimut tirai jendela yang sudah terbakar.

Teriakan minta tolong masih terucap dari mulut ibu dua anak itu. Dengan sigap, Tri Murni menyibak tirai. Sesaat setelah itu, barulah tangis dari bocah malang tersebut pecah. ‘’Saya tarik, lansung saya bawa keluar,’’ kata Tri Murni.

Dia membopong anaknya dengan cepat melalui sekat tripleks yang telah dibuka paksa sebelumnya. Itupun sembari mematikan api yang telah membakar sebagian celana yang dipakainya. Lengan kanannya juga tak lutup tersulut kobaran api.

Sesampainya di luar rumah menyelamatkan diri, Tri Murni terhenyak melihat kondisi putranya yang tak henti menangis. Dia tidak lagi memikirkan kobaran api di rumahnya. Dengan berhati-hati supaya luka bakar pada Raka tidak tersentuh, dia bergegas menuju rumah sakit. ‘’Beberapa orang sudah berusaha memadamkan api saat saya ke rumah sakit,’’ ungkapnya.

Tri Murni tak habis pikir kenapa kebakaran bisa terjadi. Seingatnya, dia meninggalkan Raka yang sedang tidur setelah menyulut obat nyamuk bakar. Obat nyamuk dia taruh di lantai tanah dan di bawah dipan papan kayu. Sementara, Raka tertidur di kasur lantai sekitar dua meter menjauh dari dipan. “Kolong dipan tingginya kira-kira setengah meter,” sebutnya.

Sebagian bangunan rumah kini telanjur jadi arang. Namun, bukan harta benda yang Tri Murni ratapi. Melainkan, kondisi putranya yang penuh luka bakar. Benaknya disesaki keinginan supaya Raka lekas sembuh. ‘’Pakai KIS ini. Belum tahu sampai kapan di sini (rumah sakit. Red),’’ ucapnya. ***(deni kurniawan/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here