Tri Ganjar Wicaksono ke Jepang karena Wayang Beber

23
SENIMAN: Tri Ganjar Wicaksono menunjukkan salah satu lakon wayang beber kontemporer buatannya.

Wayang beber membawa Tri Ganjar Wicaksono sampai ke Jepang. Bertukar ilmu tentang kesenian dan kebudayaan serupa Negeri Matahari Terbit itu. Seperti apa kisahnya?

============= 

DENI KURNIAWAN, Pacitan, Jawa Pos Radar Pacitan

MALANG melintang Tri Ganjar Wicaksono dalam dunia wayang beber kontemporer. Warga lingkungan Pojok, Sidoharjo, Pacitan, itu tidak hanya perform di kota-kota besar tanah air, tapi juga belajar kebudayaan sejenis di luar negeri. Yang paling dikenang kunjungan ke Museum of Art (MoA), Atami, Prefektur Shizuoka, Jepang, pertengahan 2018. ‘’Berdiskusi emakimono, wayang beber Jepang selama 10 hari,’’ kenangnya.

Cerita di Negeri Matahari Terbit itu bermula dari perjalanan Ganjar dan lima kawannya ndalang ke banyak tempat di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jogjakarta. Nyaris selama setahun penuh pada 2015. Mereka pentas di pondok pesantren (ponpes) dan gereja. Dokumentasi pentas diunggah ke Facebook (FB). Hingga akhirnya dilihat Komunitas Jiso –kumpulan warga Jepang yang concern dengan emakimono.  ‘’Lima perwakilan Jiso datang menemui saya. Mereka ikut pentas di sini dan saya ditawari ikut ke Japang,’’ ujarnya.

Pria 30 tahun ini meyakini wayang beber adalah cikal bikal berbagai seni budaya wayang di Jawa. Hal tersebut diketahui setelah membaca sejarah Kerajaan Majapahit dalam Catatan Ma Huan dari China. Warga kerajaan itu diceritakan suka menonton pertunjukan gambar yang kemungkinan besar wayang beber. Apalagi setelah mengunjungi pameran salah satu maestro wayang beber di Solo, 2004 silam. ‘’Wayang beber kuncinya cuma catur (teknik bercerita, Red) tanpa sabetan seperti wayang kulit,’’ tutur bapak dua anak itu.

Ganjar yang penasaran dengan wayang beber lantas pergi ke Donorojo. Mencari referensi seputar wayang beber dari sejumlah narasumber. Sebelum akhirnya menggelutinya. Kini, Ganjar tidak hanya piawai memainkan, tapi juga jago membuat. Salah satu karyanya tiga lakon inti cerita Abu Nawas. ‘’Sejak kecil memang suka seni budaya,’’ ucap pria yang pernah mengenyam ilmu pedalangan di SMKN 8 Surakarta itu. ***(cor/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here