Tri Agustina Sisihkan Waktu Membasmi Pembunuh Nomor Satu

73

Mewabahnya demam berdarah dengue (DBD) di Ponorogo hingga ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) membuat warga resah. Persoalan ini menginisiasi beberapa komunitas sosial untuk melakukan fogging. Tri Agustina menjadi satu dari sederet relawan yang menyisihkan waktunya membantu membasmi nyamuk pembasmi nomor satu di Bumi Reyog itu.

———————-

DINGIN pagi harus dilawan Tri Agustina di masa sulit sehat ini. Dari rumahnya di Desa Gandukepuh, Kecamatan Sukorejo, ibu satu anak ini berangkat menuju lokasi fogging yang menjadi sasaran komunitas sosialnya. Semula, dia sekadar mendampingi. Seiring mewabahnya DBD, permintaan fogging pun semakin meningkat. Petugas fogging pun harus ditambah. Tanpa pikir panjang, dia langsung menenteng alat fogging saat melakukan aksi sosial di Balong, tiga pekan lalu. Dia semprotkan ke arah selokan dan semak-semak. ‘’Lumayan berat. Awalnya badan terasa ngilu, tapi gak apa-apa demi kebaikan bersama,’’ kata Trina, sapaan akrab Tri Agustina.

Trina tidak merasa mual atau jijik saat harus bergelut dengan asap. Pun tubuhnya tidak mengeluh saat harus menenteng alat dari satu pintu ke pintu rumah warga. Tekadnya semakin bulat saat melihat anak temannya ikut terjangkit DBD. Naluri keibuannya terketuk. ‘’Saya trenyuh melihat banyaknya pasien saat menjenguk anak teman,’’ ujarnya.

Dari situlah dia mulai bergabung dengan komunitas sosial. Ada 13 perempuan yang turut bergabung. Namun, tidak semua sanggup menenteng alat fogging yang beratnya puluhan kilogram itu. Awalnya, Trina sama seperti perempuan lain yang mengenakan perlengkapan pelindung diri mengikuti petugas di komunitas sedang melakukan fogging. Lantaran penderita semakin bertambah, dia pun geregetan. ‘’Siapa lagi kalau bukan kita untuk memeranginya,’’ tegas perempuan kelahiran 1985 itu.

Beberapa daerah yang pernah dia rambah meliputi Balong, Jambon, dan Badegan. Kegiatan sukarela itu dia lakukan sejak pukul 05.00 hingga 10.00. Sepulang melakukan aksi kemanusiaan itu, Trina juga harus beraktivitas dengan kesehariannya. ‘’Kalau di rumah, tetap jadi ibu rumah tangga. Mengurus anak dan lain sebagainya,’’ ungkapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here