Trem Berangsur Ditinggalkan Seiring Pengaspalan Jalan

128

PONOROGO – Penyair Chairil Anwar sampai mengulang dua kali kata trem dan halte dalam puisinya Aku Berkisar Antara Mereka. Halte yang dimaksud dalam puisi yang ditulis empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan itu bukan halte bus seperti yang dijumpai hari ini. Melainkan tempat pemberhentian untuk trem —moda transportasi publik berbasis rel yang jalurnya sejajar dengan jalan raya.

Di masanya, trem sangat digemari. Masyarakat menggunakannya untuk mengangkut berbagai hasil bumi. Trem Madiun-Ponorogo digemari hingga memasuki 1970-an dan 1980-an. Berangsur ditinggalkan seiring pembangunan jalan aspal Madiun-Ponorogo. ‘’Masyarakat mulai beralih ke moda transportasi jalan. Semakin lama, operasionalnya semakin membahayakan pengguna jalan,’’ kata Andri Supriyanto, pegiat sejarah Historia van Madioen (HVM), kemarin (24/1).

Selama beberapa tahun, HVM mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terkait jalur mati KA Madiun-Ponorogo. Menelusuri sisa jaringan rel, mewawancarai sejumlah saksi hidup, serta mencari informasi dari situs-situs sejarah negeri Kincir Angin. Data juga diperoleh dari dokumen resmi pemerintah kolonial Belanda yang diterbitkan Mei 1926 berjudul Officieele Reisgids de Spoor-en Tramwegen der Java en Madoera (Panduan Resmi Perjalanan Rel dan Tram di Jawa dan Madura).

Beroperasinya KA Madiun-Ponorogo tak lepas dari Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch Indie (Staatsspoorwegen). Perusahaan perkeretaapian milik pemerintah kolonial Belanda itu membuka jalur KA pertama kali pada Mei 1907. Jaringan rel yang dibangun bertipikal tidak terlalu lebar, dan kereta yang digunakan berjenis trem. Jalur rintisan dimulai dari Madiun sampai Mlilir, Kabupaten Madiun. Jangkauan trem di Ponorogo kala itu cukup luas. Selain stasiun, Staatsspoorwagen juga membangun sejumlah halte untuk menaikturunkan penumpang trem. ‘’Dibangun bertahap sampai wilayah Badegan dan Slahung,’’ ujarnya.

Andri juga mengetahui rencana besar pemerintah pusat yang hendak mereaktivasi sejumlah jalur mati kereta api. Jika reaktivasi terealisasi, jelas menjadi alternatif moda transportasi warga Madiun, Ponorogo, dan sekitarnya. ‘’Jalan semakin tahun juga semakin padat dan macet,’’ sebutnya.

Manajer Humas PT KAI Daop VII Madiun Ixfan Hendriwintoko mengatakan, masterplan perhubungan mengenai reaktivasi jalur mati itu sudah mulai dieksekusi. Di antaranya, di jalur mati Purwokerto atau Sukabumi. Lantas, kapan reaktivasi jalur mati Madiun-Ponorogo? Ixfan belum dapat memastikan. ‘’Sepenuhnya bergantung kepentingan pusat,’’ katanya.

Kejayaan jalur transportasi KA Madiun-Ponorogo berakhir 1983 silam. Stasiun Ponorogo yang sempat ramai penumpang moda transportasi jenis trem itu tergantikan riuh transaksi pedagang. Sampai pemkab memungkasinya Senin lalu (21/1). Zaman telah berubah, banyak sambungan rel yang tertimbun tanah dan bangunan di sepanjang jalur yang pernah dilewati. Butuh modal besar dan upaya ekstrakeras jika pemerintah benar-benar ingin menghidupkannya kembali. (naz/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here