TRC-PB BPBD Ponorogo Biasa Berkawan Hujan

245

Berteduh saat hujan tidak tercatat di kamus Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Ponorogo. Misi kemanusiaan melekat kuat di pundak relawan TRC BPBD Ponorogo. Memacu mereka menanggulangi dan mengevakuasi setiap bencana, meski keselamatan menjadi taruhannya.

———-

HUJAN deras, pandangan pasti terbatas. Membuat siapa saja malas untuk beranjak. Apalagi menerabas dan mendekati sumber bahaya itu. Namun, tidak bagi relawan TRC-PB BPBD Ponorogo. Begitu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika merilis prakiraan cuaca buruk, mereka wajib memantau sesegera mungkin. Harus siap berangkat setiap saat jika suatu wilayah terdampak bencana alam. Seluruh personel harus melengkapi diri dengan alat pengaman diri. ‘’Saat terjadi bencana, risiko paling berbahaya adalah keselamatan diri. Karena itu, semua tim harus menerapkan standard operating procedure (SOP),’’ kata Koordinator TRC-PB BPBD Ponorogo Hadi Susanto.

TRC-PB BPBD Ponorogo terdiri 18 personel. Kerja mereka nyaris tak mengenal waktu, 24 jam. Sehingga, banyak menyita waktu untuk keluarga. ‘’Jadi harus pandai-pandai menghargai waktu. Setiap ada kesempatan dimaksimalkan untuk bersama keluarga,’’ ujar Hadi.

Saat terjadi bencana, relawan juga harus paham berbagai risiko. Setiap penanganan pun harus memahami prosedurnya. Untuk penanganan orang tenggelam, relawan harus segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan kajian cepat. Dari hasil kajian itulah yang akan digunakan untuk menentukan apakah membutuhkan bantuan dari tim basarnas atau tidak. Untuk penanganan rumah yang tertimpa pohon tumbang, tim harus membagi tugas. Ada yang segera menyelamatkan penghuni rumah dan kaji cepat. ‘’Kekompakan tim di lapangan menentukan cepat-tidaknya penanganan bencana,’’ terang suami Ainun Mumtaroh itu.

Letak daerah di zona pergerakan tanah Jawa Timur bagian selatan juga harus membuat seluruh tim waspada. Terutama terhadap bencana longsor dan likuefaksi. Apalagi, Bumi Reyog pernah dilanda longsor hebat di Banaran, Pulung, 2017 lalu. Saat itu, seluruh tim nyaris selalu berada di lokasi untuk menangani bencana terbesar sepanjang sejarah di Ponorogo tersebut. Tak jarang pula, tim menemui kendala saat evakuasi bencana. ‘’Saat memadamkan kebakaran hutan, terkadang sampai terjatuh dan tersesat,’’ ungkap relawan kelahiran 1983 itu. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here