Totalitas Tangani Pasien DBD

101

PONOROGO  – Menjadi tenaga medis harus totalitas. Selain terikat sumpah jabatan, tenaga medis juga bekerja atas nama kemanusiaan. Tidak cukup kesembuhan pasien berada di pundak, namun seolah nyawa pasien harus diperjuangkan. Apalagi musim demam berdarah dengue (DBD) mewabah di Ponorogo seperti sekarang ini.

Adalah Yusi Ernita, satu seorang dari sekian perawat yang bekerja tak kenal waktu merawat pasien anak di Ruang Delima RSUD dr Harjono Ponorogo. Hampir seratus persen pasien anak yang dirawat di ruang tersebut dipenuhi pasien DBD. Bahkan, ruang tidak sanggup menampung seluruh pasien hingga harus dirawat sementara di lorong rumah sakit. ‘’Sejak kasus DBD meningkat, kerjanya harus esktra,’’ kata Yusi.

Tidak heran jika biasanya berangkat pukul 07.00 pulang pukul 14.00, akhir-akhir ini tak jarang dia sampai rumah menjelang magrib. Apalagi pasien DBD harus mendapat penanganan khusus. Setiap saat dia harus siap jika ada pasien mendadak kondisi tubuhnya melemah. ‘’Setiap waktu harus rutin cek berkala,’’ ujarnya.

Tugas itu semakin berat tatkala pasien DBD sudah pada tahap dengue shock syndrome (DSS). Seperti diketahui, DSS merupakan tingkatan paling parah bagi penderita DBD. Tidak jarang pasien DBD yang sudah sampai pada DSS berujung kematian. ’’Ada penanganan khusus sesuai standard operating procedure (SOP) rumah sakit,’’ ungkap istri Bagus Sulistiyono itu.

Tidak terhitung telah berapa pasien DSS yang pernah dia rawat di ruang intensif. Dia harus melakukan observasi terhadap pasien tiap setengah hingga satu jam sekali. Meliputi suhu, nadi, tensi, serta ekstremitas (tangan dan kaki). ‘’Apakah teraba dingin atau hangat kaki pasien. Semuanya harus dicek secara intensif,’’ sambungnya.

Kesibukan itu semakin bertambah dengan tugas administrasi terhadap pasien yang diperbolehkan pulang. Tidak terbayang saat ruang tempat dia bekerja penuh dengan pasien hingga overload. Kemudian harus melakukan perawatan dan mengerjakan administrasi. ‘’Tapi, kalau dikerjakan dengan ikhlas semua terasa ringan,’’ tutur ibu dari Ghozi Juang F. itu.

Sejak 2004 lalu, Yusi menghabiskan waktu berhadapan dengan pasien di rumah sakit berpelat merah tersebut. Pun tugas sebagai ibu rumah tangga menantinya setelah pulang kerja. Karena itu, dia tiap hari harus cakap menjaga kondisi tubuh agar tetap fit. ’’Melakukan pekerjaan rumah selayaknya ibu rumah tangga. Mengasuh anak dan lainnya, tidak boleh ditinggalkan,’’ tegasnya. (mg7/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here