TOSS Layak Diadopsi TPA Sampah Mrican

108

PONOROGO – DPRD Ponorogo kepincut tata kelola limbah yang lebih maju di Bali. Kabupaten Klungkung dan Badung misalnya. Mereka memanfaatkan inovasi teknologi olah sampah sementara atau TOSS. Jika diterapkan di Ponorogo, teknologi ini dinilai mampu mengatasi tingginya volume limbah harian yang dipasok ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Mrican, Jenangan. ‘’Sistem ini mengatasi banyak persoalan. Banyak daerah ingin mencontoh,’’ kata Wakil Ketua DPRD Ponorogo Anik Suharto kemarin (3/2).

Luas TPA Mrican 1,8 hektare. Per hari limbah masuk mencapai 52 ton. Wakil rakyat menilai persoalan tersebut perlu dipikirkan solusinya. Beberapa waktu lalu, sejumlah anggota DPRD sempat studi banding ke Bali. Salah satu ilmu yang dibawa pulang adalah TOSS.

Anik menjelaskan, TOSS secara sederhana bertujuan memilah jenis limbah sebelum masuk TPA. Jenis limbah tertentu, lanjut Anik, bahkan bisa diolah jadi biomassa. Bahan biomassa tersebut mampu menjadi penggerak pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm). Seperti di Siantan, Pontianak, Kalimantan Barat. ‘’Sisanya yang tidak bisa diolah baru masuk ke TPA. Ini bisa mengatasi persoalan TPA yang overload,’’ ujarnya.

Meski begitu, Anik buru-buru menegaskan butuh keseriusan jika ingin diterapkan di Ponorogo. Kuncinya, peran serta masyarakat. Di Bali, TOSS didukung pemahaman dan kesadaran masyarakat. Mereka memilah jenis limbah, antara basah atau kering, sebelum dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS). ‘’Masyarakat juga peduli tidak membuang sampah sembarangan. Yang jelas, perlu waktu dan keseriusan untuk bisa menerapkan TOSS,’’ tutur Anik.

Keseriusan memperbaiki pengelolaan limbah di Bumi Reyog dimulai dari rencana pembahasan raperda pengelolaan sampah bulan ini. Saat ini, raperda tersebut telah masuk program legislasi daerah (prolegda) bersama 12 raperda lain. Wakil rakyat berjanji menuntaskan pembahasan seluruh raperda tahun ini. (naz/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here