Madiun

Tolak Nyanyikan Wilhelmus Menentang 100 Tahun Kemerdekaan Belanda

Jelajah Sejarah Kota Madiun

Jalan Diponegoro lebih dikenal sebagai pusat bisnis dan kuliner. Dahulu merupakan pusat pendidikan di era kolonial Belanda. Di sana terdapat Boschbouw yang dibangun 1912 silam. Pemkot sempat berwacana menjadikan bekas gedung Opleideng School Voor Inlandsch Ambtenaren (OSVIA) itu sebagai destinasi wisata.

ASEP SYAEFUL BACHRI, Jawa Pos Radar Madiun

OSVIA merupakan sekolah pamong praja yang memfasilitasi tenaga terdidik bagi anak priyayi. Di masa itu, sistem pembelajaran selayaknya di perguruan tinggi. Siswa mendapat pelajaran dengan bahasa Belanda selama lima tahun. ‘’Lulusan OSVIA diproyeksikan sebagai juru tulis dan pegawai birokrasi pemerintah kolonial Belanda,’’ kata Septian Dwita Kharisma, pegiat Historia van Medhion (HvM).

Sembari menyusuri sebuah lorong kayu –yang menjadi pemisah antara gedung depan yang terdiri dari aula dan ruang kelas dengan asrama berhalaman luas– Septian menceritakan peristiwa unik yang menjadi salah satu momentum kebangkitan nasionalisme pelajar OSVIA. Sekitar 1920, pelajar melakukan pembangkangan dengan menentang perayaan kemerdekaan 100 tahun Belanda dari Prancis. Akibatnya banyak pelajar yang dikeluarkan dari OSVIA. RMT Ario Soerjo, salah seorang pelajar yang aktif melakukan pembelaan terhadap teman-temannya yang dikeluarkan agar bisa kembali bersekolah ke OSVIA. Bahkan Soerjo turut membiayai hidup teman-temannya yang dikeluarkan. ‘’Tapi upaya itu sia-sia. Sejak itu Soerjo terang-terangan menentang pemerintah kolonial Belanda,’’ jelas pegiat asal Jalan Munggut Peni, Perumnas Mojopurno, Munggut, Wungu, Kabupaten Madiun, itu.

Setelah pergolakan itu, OSVIA berganti nama menjadi Middelbar Opleideng Schooenl Voor Inlandsch Ambtenaren (MOSVIA) atau setingkat sekolah menengah atas. Pelajar-pelajar Mosvia semakin radikal dengan membuat gerakan Mardi Oetomo. Mereka pun menolak menyanyikan lagu Wilhelmus (lagu kebangsaan Belanda) saat upacara bersama residen Madiun. Akibat peristiwa itu, OSVIA dibubarkan, siswanya banyak yang pindah ke Magelang. Pada 26 Agustus 1939, OSVIA dibuka kembali menjadi Middelbar Boschbouw School te Madioen (MBS). Dibuka oleh JH Backing. ‘’MBS itu sekolah kehutanan dengan ikatan dinas. Masa pendidikannya 3 tahun,’’ urainya.

Rombongan lalu singgah ke bungker di sebelah kanan depan boschbouw. Bungker itu merupakan peninggalan tentara Jepang. Saat pendudukannya, Jepang tidak mengalihfungsikannya menjadi markas pasukan Dai Ni Chiku Shireibu dan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). ‘’Karena itu, dibangun monumen PETA di depan boschbouw,’’ jelasnya. *** (fin/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close