Tol Ngawi-Mantingan Jauh dari Peresmian

976

MANTINGAN – Ruas tol Ngawi-Mantingan semakin jauh dari peresmian. Ini setelah warga terdampak infrastruktur megaproyek nasional itu kembali menolak mahar ganti rugi lahan dan bangunannya. Silang sengkarut persoalan terus mewarnai proses pembebasan lahan. Untuk ketiga kalinya, warga menyatakan penolakannya. Lantaran harga ganti rugi yang dirasa kelewat sedikit dari harapan. ‘’Semua warga di sini menolak. Sudah tiga kali seperti ini,’’ kata Didik Setyoko, 44, warga terdampak di Kedungharjo, Mantingan, Senin (9/7).

Bersama 70 KK warga setempat, Didik terdampak pembangunan overpass Kedungharjo II. Warga terdampak proyek infrastruktur jalan tol itu mulai mengendus ketidakberesan uang ganti rugi. Tiga kali sudah warga menerima selebaran seputar perincian ganti rugi tanah-bangunan tersebut. Terakhir, diterima Selasa (3/7). ‘’Penawaran kedua sebelum puasa kemarin. Yang pertama kurang ingat saya, sudah lama,’’ ujarnya.

Kendati pokok utama tak kunjung klirnya pembebasan lahan karena masalah harga, kiranya dalam tiap kali penawaran ada saja masalah yang membuat warga curiga. Awal Mei lalu, Didik bersama warga setempat menolak penawaran ganti rugi yang disodorkan petugas pembebasan lahan. Alasannya, lantaran tidak adanya perincian bangunan rumah. Pun, harga tanah yang ditebus kelewat rendah daripada lumrahnya. ‘’Yang kemarin itu (penawaran III, Red), harga tanah dan ganti rugi bangunan juga di bawah harga umum. Ya kami menolaknya,’’ ungkap Didik.

Didik dan warga terdampak lain enggan dibilang berbelit terkait pembebasan lahan untuk infrastruktur tersebut. Namun, katanya, mau bagaimana lagi kalau harga pengganti yang ditawarkan terlampau rendah. Dalam blangko penawaran yang disodorkan kepadanya tanpa disertai nama penanggung jawab. Harga ganti rugi yang tertera Rp 420 ribu per meternya. Sementara harga tanah sawah dibanderol Rp 190 ribu per meter. ‘’Padahal umumnya harga tanah kering saja Rp 700 ribu per meter persegi. Malah tower air beton cor milik saya cuma dihargai Rp 145 ribu. Kan nggak wajar itu,’’ paparnya.

Dengan kondisi pembebasan lahan yang silang sengkarut seperti itu, bisa dipastikan ruas tol Ngawi–Mantingan bakal jauh dari peresmian. Sebab, Didik bersama 70 KK terdampak lainnya tidak akan pernah melepaskan lahan maupun bangunannya. Jika penawaran tak kunjung menemui kecocokan harga. ‘’Dapat kabar dari BPN (Badan Pertanahan Nasional, Red) Ngawi, katanya akan ada mediasi dengan berbagai pihak yang bersangkutan. Tapi kapan tepatnya, kami tidak tahu,’’ ujar Didik.

Terkait belum kelarnya pembebasan lahan itu juga membuat pihak Jasa Marga Tol-Road Operator (JMTO) kerepotan. Sebab, batas kapan rampungnya pengerjaan proyek hingga beroperasional sampai sekarang masih gelap. ‘’Kami cuma bisa menunggu kapan serah terima saja,’’ ungkap Manajer Area Solo–Ngawi Sih Wiyono. (mg8/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here