Tokoh Agama Tolak Aksi Rusuh

30

PACITAN –  Pemuka agama di Pacitan prihatin dengan aksi anarkistis yang muncul akibat ketidakpuasan atas hasil Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pacitan Aris Mashudi tidak ingin kerusuhan kembali  terulang saat berlangsungnya sidang sengketa pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK). ‘’Sebagai anak bangsa sudah sepatutnya menghormati proses hukum di MK yang merupakan lembaga resmi negara,’’ katanya Rabu (12/6).

Pun sikap tersebut sudah sepatutnya diterapkan saat putusan diumumkan. Baik dari pendukung pasangan calon presiden 01 Jokowi-Ma’ruf Amin maupun 02 Prabowo-Sandiaga Uno diminta saling menghormati. Aris tidak ingin kegaduhan Pilpres 2019 berlarut-larut. ‘’Harapan kami semua menjaga keutuhan, persatuan umat dan bangsa. Jangan sampai terpengaruh situasi di pusat. Terlebih ikut aksi. Kita tunggu keputusan MK,’’ ajaknya.

Aris mengapresiasi semua pihak yang telah bekerja keras mengatasi kerusuhan di ibu kota pada 22 Mei lalu. Jajaran TNI-Polri dinilai telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengamankan hingga mengusut biang keladi kerusuhan di Jakarta. Sedangkan MK dianggap yang terus berupaya menyelesaikan gugatan Pilpres 2019. ‘’Kami mengucapkan terima kasih dan mendukung penuh TNI-Polri dan MK menjalankan tugasnya,’’ tegasnya.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pacitan pun gerah dengan kerusuhan di ibu kota beberapa waktu lalu. Ketua PCNU Pacitan Mahmud mengutuk keras aksi tersebut. Pihaknya melarang warga Pacitan, khususnya Nahdliyin, terlibat dalam aksi tersebut.

Terlebih mengintimidasi proses hukum di MK yang merupakan lembaga negara sah dan berhak memutus sengketa pilpres. Pasalnya aksi tersebut melanggar peraturan perundang-undangan.  ‘’Kepada masyarakat, khususnya warga NU, kami imbau tidak melakukan kegiatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,’’ pintanya.

Mahmud menunjukkan keseriusannya dengan melarang para kiai NU menggelar ceramah atau pidato yang provokatif. Bahkan mereka diminta sering terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk memberi pemahaman di samping pengajian yang biasa diberikan. Tujuannya agar kondusivitas lingkungan serta persatuan dan kesatuan tetap terjaga di masyarakat. ‘’Masyarakat harus berpikir cerdas. Jangan mudah ditunggangi kepentingan sesaat untuk kepentingan pribadi dan golongan,’’ tegasnya. (odi/sat/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here