TKSK Dolopo Merdekakan Seorang ODGJ

77

MADIUN – Sugeng Waluyo terpaksa berurusan kembali dengan dokter jiwa. Warga Dusun Sumbersoko, Desa/Kecamatan Dolopo, itu kembali dirujuk ke ruang Teratai RSUD dr Soeroto Ngawi. Pengiriman pria yang terpasung itu merupakan kali ketiga dalam kurun waktu tiga tahun sejak didiagnosis sebagai orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). ‘’Di sana (RSUD Soeroto, Red) bakal menjalani pengobatan selama 21 hari,’’ kata koordinator tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) Dinas Sosial (Dinsos) Madiun Fatkhur Rohman.

Kemarin (12/7) rantai besi yang membelenggu kaki kanan Sugeng dilepas tim pelaksana kesehatan jiwa masyarakat (TPKJM) Dolopo. Rantai besi itu terikat sejak Senin lalu (9/7). Setelah rantai dilepas, petugas juga merapikan rambut bujangan 31 tahun tersebut. Dia diisolasi di ruangan bambu 2×3 meter di belakang rumah. Pihak keluarga terpaksa memasung akibat ulah menganiaya saudaranya hingga terluka parah. ‘’Prosedurnya seperti itu. Setiap kali lepas pasung, harus dirujuk ke dokter jiwa untuk pengobatan,’’ paparnya.

Fatkhur menjelaskan, TPKJM berkoordinasi dengan lingkungan tempat tinggal Sugeng sebelum melepas pasung. Warga setempat menyetujuinya. Sebab, secara umum jarang berbuat onar kendati kerap berjumpa warga. Dia menampik ketika disinggung pengobatan rumah sakit tidak efektif. Menurutnya, setelah menjalani serentetan prosedur pascalepas pasung, kondisinya selalu stabil. ‘’Pengobatan puskesmas juga berjalan baik,’’ tegasnya.

Menurut Fatkhur, kejiwaan Sugeng kambuh bila ada yang sengaja mengganggunya. Dia sulit mengontrol emosi jika ada perkataan atau perbuatan yang membuatnya tersinggung. ‘’Jadi, hanya dipasung saat kambuh,’’ tuturnya.

Fatkhur sendiri tidak berani memberi garansi Sugeng tidak mengamuk lagi pasca pengobatan. Naik-turunnya kondisi kejiwaan sangat bergantung pada interaksi dengan lingkungan. Namun, Fatkhur tetap berusaha memberikan perawatan terbaik. Serta berkomunikasi dengan keluarga dan masyarakat untuk tidak mengucilkannya. ‘’Setelah dirawat, kami bawa ke rehabilitasi di Kediri,’’ ungkapnya.

Di Kabupaten Madiun, ODGJ yang dipasung semakin berkurang. Dari 69 ODGJ pada 2015 lalu kini tersisa 16 ODGJ. Sedangkan penderita ODGJ sejauh ini masih di angka ribuan. Di Kecamatan Dolopo saja jumlahnya berkisar 150 orang. ‘’Penanganan ODGJ butuh ketelatenan dan kasih sayang. Tak bisa disamakan dengan penyakit lain,’’ tuturnya.

Wiji, ibu Sugeng, tidak bisa berbuat banyak selain memasung anaknya ketika kambuh. Sebab, benda apa pun di depan mata bisa dijadikan alat melakukan kekerasan. Karenanya, dia berharap masyarakat tidak mengucilkan dan berperilaku kasar kepada anaknya. ‘’Saya tidak pernah mengurung anak saya kecuali kambuh,’’ katanya. (cor/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here