Titik Mulyani Berkreasi dengan Madumangsa Jagung

290

Kondisi orang tua yang menderita diabetes mengantar pertemuan Titik Mulyani dengan madumangsa jagung. Keliru racikan bumbu sempat dialami saat awal membuat jajanan yang lumrahnya berbahan ketan hitam tersebut. Kini, dia kebanjiran orderan.

——————-

AROMA khas fermentasi seketika menusuk hidung saat memasuki rumah Titik Mulyani. Kepulan asap menguar di balik pintu tak berdaun dari arah belakang. Saat itu Titik Mulyani, si empunya rumah, tengah duduk menghadap tungku perapian. Lengannya tak henti-henti berayun, mengaduk adonan di dalam wajan.

Tak jauh dari tempatnya duduk, tertumpuk jajanan madumangsa berbungkus kertas warna-warni. Ada yang masih dalam baskom, ada juga yang sudah dikemas. ‘’Banyak pesanan hari ini,’’ kata Titik sembari menaruh serok.

Di meja tak sebegitu tinggi di salah satu sudut dapur itu terdapat sebuah tempat nasi. Namun, isinya nasi jagung. Ya, bahan itulah yang diolah Titik menjadi madumangsa. Belum genap setahun warga Desa Puhti, Karangjati, Ngawi, ini mendapatkan resep jitu. ‘’Awalnya saya posting di medsos (media sosial, Red), lalu banyak yang tanya-tanya,’’ ujarnya.

Titik tidak mematok harga madumangsa jagung buatannya mahal-mahal. Satu pack berisi 18 gelinding dibanderol Rp 12 ribu. Sementara, yang kemasan satu kilogram cukup Rp 50 ribu. ‘’Banyak yang bilang rasanya sama dengan madumangsa ketan,’’ ujar ibu satu anak ini.

Perkenalan Titik dengan madumangsa jagung berawal tidak sengaja. Ibunya yang menderita diabetes menjadi titik awal munculnya ide membuat jajanan bercita rasa manis itu dengan bahan yang tidak selumrahnya. Saran dokter untuk mengurangi konsumsi nasi beras, membuat Titik mesti menyiapkan nasi jagung di meja makan saban hari. ‘’Pernah tidak habis, saya buat nasi jagung jadi tapai,’’ tuturnya.

Titik seketika teringat madumangsa saat mencecap hasil eksperimennya membuat tapai nasi jagung. Iseng-iseng, dia lantas ’’membablaskan’’ tapai tersebut menjadi madumangsa. Lidahnya merasakan rasa yang tak jauh berbeda dengan madumangsa ketan.

Berangkat dari itu, dia sengaja membuat lebih banyak. Satu per satu kenalannya memberikan testimoni madumangsa jagung buatannya. ‘’Tidak langsung saya beri tahu kalau itu dari jagung, saya minta ditebak dulu,’’ katanya.

Berbagai saran dari hasil testimoni ditampungnya. Jidatnya sempat berkerut ketika mendapat kritikan. Bukan tentang enak atau tidaknya, melainkan tekstur madumangsa jagung yang dibilang terlalu lembek.

Namun, setiap testimoni berakhir dengan keterkejutan sesaat setelah Titik memberi tahu kalau bahan bakunya adalah jagung. Banyak yang tidak percaya tapi suka dengan rasanya. ‘’Saya kemudian coba-coba terus, bagaimana caranya agar tekstur madumangsa jagung tidak terlalu lembek,’’ ungkapnya.

Percobaan demi percobaan dilakukan Titik sembari bertanya kiri dan kanan. Setelah beberapa kali gagal, dia berhasil menemukan jurus supaya madumangsa jagung bisa mengeras. Kuncinya adalah proses perebusan. Wajan tempat merebus adonan harus tetap di atas tungku perapian lebih dari dua jam. ‘’Sampai keluar minyaknya. Kalau sudah begitu, madumangsa jagung bisa agak keras teksturnya,’’ terang Titik.

Sekarang, keseharian Titik tak lepas dari kegiatan produksi madumangsa jagung. Kewalahan meladeni pesanan, sejumlah kerabat dimintanya membantu. Pembuatannya memang memerlukan cukup banyak tenaga. Terutama proses pembungkusan dengan kertas warna-warni. ‘’Nasi jagung diragi, lalu direbus dicampur santan, gula, garam, dan daun pandan. Sepertinya dibuat dodol juga bisa ini,’’ ucapnya. ***(deni kurniawan/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here