Magetan

Tiru Tata Kelola Air Luar Negeri, Bupati-Legislatif Sepakati Regulasi

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Bupati Magetan Suprawoto tidak berseberangan pendapat dengan legislatif. Menepikan benar tidaknya kekeringan di sejumlah wilayah di Kecamatan Parang akibat sumur sibel, eksplorasi air tanah perlu dibuatkan regulasi. ‘’Ya, memang perlu diatur,’’ kata Kang Woto, sapaan akrab bupati, Minggu (4/10).

Kang Woto menyebut, kabupaten ini perlu meniru pemanfaatan air di luar negeri. Pemakaian air tanah diatur dan pengelolaannya tidak sembarangan. Salah satunya, proyek pengembangan air tanah (P2AT) yang berpedoman pada aturan khusus. ‘’Sehingga pasokan air tetap terjaga,’’ ujarnya.

Ihwal pembuatan regulasi, Kang Woto ingin semua pihak terlibat. Antara lain, asosiasi pemakai air, stakeholder, dan lainnya. ‘’Mencegah munculnya pertentangan. Jadi, harus didapatkan kesepakatan bersama,’’ tegasnya.

Di luar regulasi, bupati menilai masyarakat perlu membuat sumur resapan pribadi. Pasokan air tetap ada ketika tetangga mengalami krisis. ‘’Karena efeknya terasa, kantor-kantor pemerintahan telah saya minta membuat sumur resapan,‘’ ucap mantan sekjen Kemkominfo tersebut.

Kang Woto telah meminta badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) menyalurkan air bersih ke warga terdampak kekeringan. ‘’Solusi jangka pendek mengatasi kekurangan air dari BPBD akan dibantu PDAM Lawu Tirta,’’ tuturnya.

Sebelumnya, kesulitan mengakses air bersih warga Desa Mategal, Parang, memantik keprihatinan legislatif. Wakil Ketua DPRD Suratman melihat fenomena kekeringan memang biasa terjadi setiap musim kemarau. Eksekutif perlu segera mengatur regulasi eksplorasi air tanah. Baik air tanah permukaan, air tanah dangkal, maupun air tanah dalam. (odi/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close