Tinggalkan Pramugari

161

RIDA Allah tergantung pada rida orang tua. Kalimat itulah yang kini terkenang di benak Dewi Mita Sari. Baginya, restu orang tua adalah kunci meraih kesuksesan. Dia rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pramugari lantaran tak mendapat restu dari ibunya. Padahal, menjadi pramugari sudah menjadi cita-citanya sejak SMA. ’’Sudah hampir dua tahun, saya resign dari pramugari,’’ kata Mita.

Mita merasakan betul kesulitan demi kesulitan saat menjadi pramugari karena restu dari Sri Sukatin, ibundanya, tak pernah didapat. Di saat teman seangkatannya hanya menjalani masa training selama tiga bulan, dirinya menghabiskan waktu selama enam bulan. Namun, saat itu dia masih belum menyadari kegagalan demi kegagalan saat training tersebab tidak mendengarkan ibunya. ’’Karena saking ingin menjadi pramugari. Jadi, biarpun gagal, masih semangat,’’ ujar warga Desa Bekare, Kecamatan Bungkal, Ponorogo, itu.

Sejak SMA, keinginan menjadi pramugari itu sudah ditentang ibunya. Risiko sebagai pramugari yang tidak bisa diterima sang ibu. Dia berusaha menuruti dan memilih melanjutkan pendidikan di Unipma. Baru semester VI, dirinya memutuskan untuk berhenti. Diam-diam Mita mendaftar di maskapai penerbangan Lion Air. Saat diterima, dia tak berani bilang kepada ibunya. Dia memilih lapor kepada kakak iparnya, Sakri. Beruntung sang kakak bisa meyakinkan ibunya. ’’Ibu mengizinkan, tapi sangat berat,’’ ucapnya.

Dalam setahun dia terbang dari satu kota ke kota lainnya, juga antarpulau. Mulai Surabaya, Bali, Lombok, hingga Samarinda. Senang hatinya memandu para penumpang pesawat terbang. Berbagai karakter penumpang dari berbagai daerah dia temui. Banyak pengalaman yang didapatnya saat berhasil meraih cita-citanya itu. ’’Siapa yang tidak bahagia berhasil meraih cita-cita? Tapi, saya merasa ada yang kurang,’’ tutur putri kedua pasangan Marikun dan Sri Sukatin itu.

Hampir setiap hari sang ibu menghubunginya. Tak ada kata selain kangen dan khawatir yang diucapkan ibunya. Wejangan juga dia terima. Itulah yang membuatnya merasa sedih ketika mendengar suara ibunya dari sambungan telepon. Tak hanya sekali dua kali sang ibu memintanya pulang. Mita dilanda bimbang yang luar biasa. Dia tak ingin durhaka kepada ibunya. Namun, dia juga berat melepas cita-citanya. ‘’Berat sebenarnya. Tapi, saya lebih berat tanpa restu ibu,’’ ujar gadis kelahiran 22 Mei 1993 itu.

Kemudian, dia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Berbagai macam pekerjaan dia lakoni. Mulai menjadi sales promotion girl (SPG) sepeda motor hingga minuman kemasan. Hingga akhirnya, kini dia menjadi experience consultan handphone kenamaan di Ponorogo. Jalannya mendapatkan rezeki sangat mulus. Pundi-pundi uang berhasil dikantonginya. Dia percaya semua itu karena restu dari sang ibu yang kini bisa dia jumpai setiap hari. ’’Cari uang jadi gampang. Hati juga tenang,’’ pungkasnya. (bel/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here