AdvertorialNgawiSport

Tim Wushu Ngawi Raih Empat Medali dari Porprov 2019

Kontingen Wushu Ngawi sukses memboyong empat medali dari ajang Porprov Jatim 2019. Semangat para atlet dan latihan ekstraketat menjadi kunci prestasi mereka. Seperti apa kisah di balik capaian tersebut?

—————–

DENI KURNIAWAN, Ngawi

TIM wushu Ngawi berhasil membawa pulang satu emas, satu perak, dan dua perunggu dari ajang Porprov Jatim 2019. Sekeping emas itu disumbangkan Riko Kurnia Febriyanto. ‘’Pastinya senang bisa dapat emas,’’ kata remaja 15 tahun itu.

Keberhasilan Riko menggondol medali emas di kelas 42 kilogram tidak lepas dari persiapannya yang matang. Menu-menu latihan yang diberikan pelatih dilahapnya dengan serius. ‘’Satu pertandingan menang KO (knock out, Red), selebihnya berdasar poin penilaian juri,’’ ujarnya.

Laga semifinal menjadi pertandingan paling mengesankan baginya. Jebolan Pelatnas 2018 itu berhasil menuntaskan dendamnya dengan lawannya dalam duel menuju final tersebut. Riko sempat mendapat perlakuan curang dari juri pada Kejurprov Surabaya tahun ini juga.

Rasa plong di dada Riko semakin komplet setelah wasit mengangkat tangannya seusai melakoni dua ronde di final. Semringah kian terpancar dari wajah remaja asal Dusun Kalang, Desa Ngale, Paron, ini setelah berdiri di podium tertinggi saat penyerahan medali. ‘’Semoga prestasi ini menjadi motivasi untuk lebih baik lagi,’’ harapnya.

Ada perjuangan keras di balik medali emas yang mengalung di leher Riko. Sebelum berangkat bersama kontingen, sulung dua bersaudara pasangan Fitri Handayani dan Sugiyanto itu terancam tidak bisa turun gelanggang lantaran overweight.

Sekitar tiga pekan dia harus berlatih sembari menjalani diet ketat. Riko mesti mengurangi berat badannya sampai sembilan kilogram. Cukup sayur-mayur yang masuk ke mulutnya demi turun di kelas 42 kilogram. ‘’Menjelang tanding juga masih diet. Soalnya penimbangan berat badan dilakukan setiap kali mau tanding,’’ terangnya.

Sementara, medali perak dipersembahkan Zalza Syahputra di kelas 48 kilogram. Sedangkan dua medali perunggu dihasilkan Afi Shihab (52 kg) dan Farid Dwi Kurniawan (56 kg). ‘’Prestasi yang bagus, menilik fasilitas latihan yang serba terbatas selama ini,’’ kata Ketua Wushu Ngawi Hadi Suroso.

Kalangan pelatih dan jajaran pengurus wushu Ngawi tidak memungkiri ada semacam rasa keder saat mengetahui fasilitas latihan yang jauh dari kata modern. Barbel besar berbahan cor semen menjadi salah satu alat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. ‘’Semangat anak-anak dan teman-teman pelatih yang menjadi kunci di sini,’’ ujar Suroso.

Mental-mental juara dalam diri para atlet wushu serta keseriusan pelatih dalam memberikan arahan terbukti dengan serangkaian prestasi yang didapatkan. Salah satu yang masih lekat di ingatan adalah saat Riko membawa panji Merah-Putih di Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2018 Brazil. ‘’Harapannya, baik bagi atlet maupun pelatih, tidak cepat berpuas diri,’’ pungkasnya. ***(isd/c1/adv)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close