Madiun

Tim Satgas Pangan Gelar Operasi Pasar

MADIUN– Lonjakan harga pangan selama Ramadan dikontrol. Pengendalian itu dilakukan dengan langkah operasi pasar (OP). Ada sejumlah sasaran OP yang digelar oleh Tim Satgas Pangan. Antara lain, di Pasar Besar Madiun, Pasar Sleko, kantor bulog dan beberapa kantor kelurahan.

Adapun komoditi yang dijual selama OP adalah minyak goreng, gula pasir, beras, dan tepung terigu. ’’Kami berharap konsumen OPD adalah langsung masyarakat (rumah tangga), bukan pedagang. Karena saya pikir stok bahan pokok yang ada di pedagang masih ada,’’ terang Kepala Dinas Perdagangan Kota Madiun Gaguk Haryono Rabu (8/5).

Di pihak lain, bulog menyatakan pemantauan harga bakal terus dilakukan. Sekaligus menjamin ketersediaan bahan pangan di pasar. Terlebih pada saat Ramadan permintaan akan kebutuhan bahan pokok meningkat. ’’Kami menjamin stok sangat cukup untuk mendukung kegiatan menjaga stabilitas harga pangan,’’ kata Kepala Bulog Sub Divre Madiun, Sugeng Hardono.

Disebutkan, saat ini stok beras di gudang bulog terdapat sekitar 12.800 ton. Ketersediaan beras itu dapat mencukupi kebutuhan warga sampai dengan tahun 2020. Selain beras, stok bahan pokok yang tersedia di gudan bulog ada 5 ribu liter minyak goreng dan 15 ton gula pasir.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Madiun Kota Madiun Kota AKP Suharyono sudah mewanti-wanti kepada para pihak terkait. Bila ditemukan adanya ketidakstabilan harga, yang diakibatkan oleh spekulan yang bermain di pasar, sehingga harga bahan pokok lebih tinggi dari pasar lain, maka akan dilakukan penindakan tegas. ’’Tentu. Penegakan hukum akan dilakukan bila ditemukan bukti-bukti kepada pelaku usaha yang menguntungkan diri sendiri dengan membuat harga pangan menjadi naik,’’ katanya.

Karena itu, pihaknya yang merupakan bagian dari Tim Satgas Pangan bakal rutin memantau kondisi stabilitas harga bahan pokok di pasar. Seperti dengan melakukan pengecekan untuk mengetahui penyebabnya apabila terjadi lonjakan harga yang tidak wajar.

Suharyono juga meminta kepada pihak-pihak tertentu untuk tidak melakukan penimbunan bahan pokok. Karena perbuatan itu merupakan bentuk pidana. ’’Kalau pun memang ada indikasi penimbunan, kami akan lakukan penyelidikan dan dilanjutkan penyidikan. Jika nanti ditemukan tindak pidananya akan kami proses sesuai aturan hukum,’’ jelas perwira dengan pangkat tiga balok di pundak tersebut. (her/ota)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close