Tim Kemenkes Kaget Lihat Pasien DBD Opname di Lorong

70

PONOROGO – Parahnya wabah demam berdarah dengue (DBD) di Bumi Reyog menjadi perhatian nasional. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerjunkan tiga utusannya. Guna menginvestigasi korban serangan nyamuk Aedes aegypti itu ke beberapa rumah sakit.

Kabid Pelayanan Medik RSUD dr Hardjono dr Siti Nurfaidah yang mendampingi mengatakan ada beberapa hal yang disoroti tim dari Kemenkes. ‘’Jadi, ini untuk cek dan ricek tentang DBD yang saat ini sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB),’’ kata Siti.

Dia menjelaskan tim investigasi melakukan pengecekan terhadap pasien yang ada di rumah sakit berpelat merah tersebut. Mengingat sebelumnya beredar simpang siur data. Tim investigasi sempat terkejut saat melihat membeludaknya jumlah pasien DBD. Terutama pasien anak di Ruang Delima. ‘’Sedikit terkejut karena pasien dirawat juga di lorong dan sebagian di unit gawat darurat (UGD),’’ ujarnya.

Dari situlah tim mengetahui fakta dan kondisi wabah DBD yang yang sebenarnya. Tiga utusan Kemenkes itu pun mencatat masalah penanganan KLB. ‘’Jika ada masalah kami diminta untuk mengajukan permohonan melalui dinkes setempat kemudian diteruskan ke provinsi dan pusat,’’ terangnya.

Tim juga menyoroti konsep deteksi dini pasien DBD. Di rumah sakit, penderita DBD dapat terdeteksi di hari ketiga. Padahal ada alat deteksi dengue NS1. Melalui alat tersebut penderita dapat dideteksi di hari pertama. ‘’Alat itu mahal, per pemeriksaan harganya Rp 250 ribu,’’ ungkapnya.

Dia menjelaskan alasan lain tidak digunakannya alat deteksi dengue NS1. Alat tersebut hanya digunakan sementara. Artinya, penderita harus melakukan uji laboratorium untuk mendapatkan hasil positif. ‘’Bisa jadi melalui alat tersebut penderita yang negatif terdetektif positif DBD,’’ tuturnya.

Itulah mengapa World Health Organization (WHO) tidak merekomendasikan alat tersebut untuk deteksi dini. Kendati demikian, tim investigasi menyarankan untuk mengajukan permohonan bantuan pengadaan alat tersebut ke pusat. Menanggulangi pasien terlambat ditangani dalam bencana wabah DBD tahun ini. ‘’Tim mengapresiasi para dokter yang telah bekerja luar biasa menangani penderita DBD yang sampai membeludak ke lorong,’’ imbuh Siti.

Tim investigasi juga memberikan dukungan penuh kepada tim medis yang turut bersama menanggulangi KLB DBD. Pihak rumah sakit diminta mengajukan permohonan fasilitas tambahan melalui dinkes setempat diteruskan ke provinsi lalu pusat. ‘’Tim investigasi juga membeberkan apresiasi sigapnya daerah menetapkan sebagai KLB,’’ ujarnya.

Ponorogo satu-satunya daerah berstatus sebagai KLB di Jawa Timur. Kabupaten lain seperti Kediri dan Tulungagung yang penderita DBD lebih tinggi, belum menyatakan KLB. Dengan demikian, itu dapat memberikan rangsangan kepada warga agar tanggap melakukan pencegahan. ‘’Dengan demikian otomatis warga dapat bergerak bersama menanggulangi wabah ini,’’ ucapnya. (mg7/c1/fin) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here