Tiga Puluh Tujuh Tahun Menjaga Masjid Setono

23

PONOROGO – Sudrajat sosok penting di Masjid Setono. Di usianya yang memasuki kepala tujuh, dia tetap setia mengurusi masjid kuno yang dibangun sejak abad 17 tersebut. Pengabdian itu telah dilakoninya sejak 1982 silam.

Keasrian lingkungan kompleks Masjid Baiturrohman begitu nyaman. Menelusuri gang ke timur menuju masjid. Tidak jauh dari masjid, terdapat sebuah tower pemancar seluler. Tepat di bawahnya, terdapat sebuah rumah cukup sederhana. Di rumah itulah Sudrajat tinggal. Kulitnya sudah keriput termakan usia. Untuk berjalan pun menggunakan alat bantuan lantaran kakinya sakit. Namun, ingatannya masih kuat setiap diminta menceritakan sekuel sejarah Masjid Setono. ‘’Dulu masjid ini tak ada plakatnya. Orang-orang menyebutnya Masjid Setono. Semenjak jadi takmir, saya beri nama Baiturrohman,’’ kenangnya.

Koran ini dipersilahkan masuk ke ruang tamu. Sudrajat terduduk di kursi, sedangkan kedua tangannya memegang alat bantu berjalan. Dia bukanlah guru ngaji ataupun ustadz yang mengajarkan ilmu agama kepada santri. Namun dialah penjaga masjid peninggalan Mbah Donopuro tersebut. ‘’Saya masih kecil mainnya ya di masjid ini,’’ kata kakek 71 tahun itu.

Sudrajat kecil banyak menghabiskan waktu bermain di sekitar kentongan dan bedug yang tak berubah sampai kini. Kedua alat bunyi tradisional tetap berfungsi dengan baik. Selalu ditabuh menjelang adzan dan seusai salat tarawih. Sumur di sebelah timur masjid pun sampai kini masih mengalirkan air yang bersih, meskipun saat kemarau. ‘’Hidup saya tak pernah jauh dari masjid ini,’’ lanjutnya.

Sudrajat juga paham betul simbol dan makna dari kontruksi bangunan masjid. Kontruksi atap masjid berbentuk tumpang tiga. Memiliki arti iman, Islam, dan ihsan. Sementara satu tiang penyangga di tengah kontruksi atap menujuk lurus ke atas bermakna tauhid. ‘’Atap dipikul empat soko guru utama dan empat tiang di pinggir,’’ ungkapnya.

Sudrajat juga masih ingat betul orang tuanya sering menceritakan bahwa dinding masjid terbuat dari anyaman bambu. Orang tuanya juga merupakan penjaga sekaligus pengurus masjid. Tiap ayahnya membersihkan masjid, dia selalu diajak. Tak jarang pula, dia ikut membantu ayahnya. Dari situlah dia mendapatkan pelajaran banyak tentang bagaimana membangun kesabaran untuk membersihkan, merawat, dan menjaga rumah Allah. Sudrajat kecil juga sering diajak ayahnya membersihkan makam pendiri dan keluarga yang ada di kompleks masjid. Pekerjaan sehari-hari itu dia lakoni sedari kecil. ‘’Warga sini juga ikut menjaga masjid ini,’’ sambungnya.

Sebagai takmir, Sudrajat bertanggung jawab penuh atas kemajuan masjid. Pada 2001, dia ditunjuk sebagai wakil imam masjid. Dari situlah dia mencoba menghidupkan kembali sisa-sisa kejayaan di masa lampau. Menginjak 2010, dia telah dipercaya sebagai imam masjid. ‘’Tugasnya lebih berat, apalagi umurnya juga sudah tua,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here