Tiga Pelajar Ponorogo Ciptakan Obat Nyamuk Ramah Lingkungan

125

Sekecil solusi sangat berarti di tengah mewabahnya demam berdarah dengue (DBD) saat ini. M. Akif Tholibul Huda, Rifqi Fathil Alhamid, dan Hanifah Rana Zahirah berhasil menciptakan obat nyamuk elektrik berbahan daun beringin. Mengeksplorasi kandungan anti-insekta yang dapat meracuni pembunuh nomor satu di Bumi Reyog itu.

———————–

DISKUSI ilmiah berlangsung di halaman rumah M. Akif Tholibul Huda bersama dua teman sekolahnya, Rifqi Fathil Alhamid dan Hanifah Rana Zahirah. Di samping halaman terlihat sebuah meja yang dipenuhi berbagai alat laboratorium. Mulai mikroskop hingga berbagai cairan. Di sampingnya terdapat produk dari daun beringin kering. Berwadahkan kertas karton layaknya produk siap jual berlabelkan HAP. Nama produk itu akronim dari tiga penemunya. Akif mulai mencoba produk yang telah dibuatnya. Dia meletakkannya di wadah yang tersambung aliran listrik. Serupa sakelar yang biasa digunakan mengusir nyamuk dengan obat elektrik produksi pabrik. Aroma wanginya tidak menyengat dan tak menimbulkan alergi. Aromanya lebih menyerupai teh. ‘’Melihat daun itu cuma mengotori halaman sekolah, akhirnya kami berpikir untuk memanfaatkannya,’’ kata Akif.

Hingga tiga pelajar ini sukses menelurkan produk penelitiannya November lalu. Di saat mewabah DBD sekarang ini, produk ini tentu sangatlah berarti. Pun, hasil temuan itu telah teruji secara ilmiah. Meski idenya sederhana, hasil penelitian itu menoreh juara III Lomba Karya Ilmiah Populer (LKIP) Pesta Sains Nasional di IPB akhir tahun lalu. ‘’Tidak hanya sekali mencoba, tapi berkali-kali,’’ ujarnya.

Butuh berpuluh kali percobaan untuk dapat menghasilkan obat nyamuk elektrik dari daun beringin tersebut. Kesulitannya adalah menyesuaikan takaran. Setelah berkali-kali mencoba mereka menemukan takaran pas. Yaitu limbah daun beringin yang berwarna kuning sebanyak 80 gram dihaluskan, ditambah 100 ml air sulingan, kemudian dipanaskan. Sebelum mendidih ditambahkan 10 gram tepung kanji, kemudian dicetak dipipihkan menyerupai obat nyamuk elektrik. Setelah itu dikeringkan di bawah terik matahari selama sehari. ‘’Begitu ketemu idenya, kami cari referensinya,’’ imbuh Rifqi Fathil Alhamid.

Kejelian mereka mengetahui ada efek insekta dalam daun beringin kemudian diolah menjadi obat nyamuk eletrik yang ramah lingkungan patut diacungi jempol. Kerjanya pun diklaim lebih efektif dari produk pabrikan. Obat pabrik memerlukan waktu 21 menit untuk mulai bekerja mematikan nyamuk. Sedangkan temuan mereka hanya memerlukan waktu 19 menit. Pun, bertahan hingga delapan jam. ‘’Rencananya untuk diperbanyak agar membawa manfaat bagi orang banyak,’’ katanya.

Saat ini hasil temuan mereka diproduksi dalam jumlah kecil. Meski demikian, produk tersebut terhitung ekonomis dibanding harga pabrikan. Mereka hanya membanderol Rp 5-8 ribu per paknya. Satu pak berisi sepuluh produk. Tentang seberapa kuat hasil temuan itu dapat membunuh nyamuk Aedes aegypti, mereka harus melakukan pengembangan. Sebab, saat penelitian mereka menggunakan nyamuk culex. Pun mereka telah mencari literatur tentang nyamuk yang saat ini menjadi pembunuh nomor satu di Bumi Reyog itu. ‘’Dari referensi yang kami pelajari, Aedes aegypti memiliki kekebalan tubuh lebih tinggi dari culex atau nyamuk rumahan,’’ ungkapnya.

Mereka berharap, hasil temuan itu dapat diproduksi secara masal agar memberi manfaat bagi orang banyak. Pun, sebagai bukti bahwa putra dari kabupaten ini berhasil menelurkan inovasi. Terlebih hasil temuan itu berbahan limbah ramah lingkungan dan tidak memiliki efek samping. ‘’Sudah ada yang beli saat kami pasang stan di bazar sekolah. Tapi, kami belum produksi dalam jumlah besar. Masih terkendala anggaran dan waktu, karena kami juga konsentrasi menghadapi ujian akhir dan seleksi masuk perguruan tinggi,’’ ucapnya. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here